Daftar Blog Saya

Senin, 17 Januari 2011

KEJANG DEMAM

A. PENGERTIAN
Demam kejang atau febrile convulsion adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal > 380C) yang disebabkan oleh proses ekstra kranium.
(Ngastiyah, 1991)
Demam kejang adalah suatu kejadian pada bayi dan anak biasanya terjadi antara umur 36 bulan dan 5 tahun berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi intrakronial atau penyebab tertentu.
(Mansjoer Arief, 2000)
B. ETIOLOGI
Hingga kini belum diketahui secara pasti demam kejang disebabkan infeksi saluran nafas atas, otitis fedia, gastroenteritis, dan infeksi saluran kemih, kejang tidak selalu tmbul pada suhu tinggi dapat menyebabkan kejang.
(Mansjoer Arief, 2000)
C. PATOFISIOLOGI
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel/organ otak diperlukan energi yang didapat dari metabolisme, bahan baku penting untuk metabolisme otak adalah glukosa, sifat proses ini adalah oksidasi dengan perantara fungsi paru-paru dan diteruskan ke otak melalui sistem kardiovaskuler.
Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa sumber energi otak adalah yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel yang dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal membran sel neoron dapat dilalui dengan mudah oleh ion natrium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Nat) dan elektrolit lainnya kecuali ion klorida (Cl). Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron terdapat keadaan sebaliknya.
Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel, maka terdapat perbedaan potensial membran yang disebut potensial membran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na – K ATP – Ase yang terdapat pada permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh :
1. Perubahan konsentrasi membran ion diruang ekstra seluler
2. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya
3. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.
Pada keadaan demam kenaikan suhu 10C akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10 – 15 % dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20 %.
Pada anak umur 3 th sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh dibandingkan dengan orang dwasa yang hanya 15 % oleh karena itu, kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron and dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium dan ion natrium melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik, lepas muatan listrik ini besarnya sehingga dapat terluas keseluruh sel maupun kemembran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut “Neurotrans Filter” dan menjadi kejang.
(Ngastiyah, 1991)
D. MANIFESTASI KLINIS
Umumnya kejang demam berlangsungnya tingkat berupa serangan kejang klinik atau tonik-klonik bilateral. Bentuk kejang yang lain dapat juga terjadi seperti mata terbalik keatas dengan disertai kekakuan atau kelemahan, gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan, atau hanya sentakan atau kekakuan fokal.
Sebagian besar kejang berlangsung kurang dari 6 menit dan kurang dari 18% berlangsung lebih dari 15 menit. Sering kali kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti anak tidak memberi reaksi adapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit, anak terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis. Kejang dapat diikuti hemiparisis sementara tanpa (Heiparesis Todd) yang berlangsung beberapa jam sampai beberapa kali kejang unilateral yang lama, dapat diikuti oleh hemiparesis yang mantap. Bangkitan kejang yang berlangsung lama lebih sering terjadi pada kejang demam yang pertama.
(Mansjoer Arief, 2000)


E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan cairan serebrospinal
2. Elektroesenfalografi (CEG) tetapi kurang mempunyai nilai prognostik, tidak dianjurkan untuk pasien kejang demam bersama.
3. Pemeriksaan lab rutin, untuk mengetahui sumber infeksi.
(Mansjoer Arief, 2000)
F. PENATALAKSANAAN
Ada 4 faktor yang perlu dikerjakan yaitu :
1. Memberantas kejang secepat mungkin
 Bila pasien dalam keadaan konvulsivus, obat pilihan utama adalah diajepam dengan injeksi IV
 Jika tidak ada diajepam diganti penoborbital secara dini.
2. Pengobatan penunjang
 Semua pakaian ketak dibuka
 Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung
 Usahakan agar jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan O2 bila perlu dilakukan atau trakeostomi
 Pengusapan lendir dilakukan teratur dan diberikan O2.
3. Pengobatan rumat
Daya kerja diajepam sangat singkat berikan 45-60 menit sesudah disuntikkan oleh karena itu harus diberikan obat antiseptik dengan daya kerja lebih lama misal : Penobarbital atau difenilhidantoin.
1) Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan gerakan untuk/konik yang tidak terkontrol selama episode kejang
Kriteria hasil : Mengungkapkan pemahaman faktor yang menunjang kemungkinan trauma, dan atau penghentian pernafasan dan mengambil langkah untuk memperbaiki.
Intervensi :
 Pertahankan bantalan lunak pada penghalang tempat tidur yang terpasang dengan posisi tempat tidur rendah
 Evaluasi kebutuhan untuk/berikan perlindungan pada kepala
 Catat tipe dari aktivitas kejang
 Lakukan penilaian neurologis/TTV setelah kejang
 Orientasi kembali pasien terhadap aktivitas kejang yang dialaminya
 Diskusikan adanya tanda-tanda serangan kejang
 Kolaborasi pemberian obat antiepilepsi
2) Hipertensi berhubungan dengan proses imflamasi
Kriteria hasil : Suhu tubuh dalam batas normal
Intervensi :
 Monitor temperatur secara ketat
 Lakukan “Tepid Sponge” (Seko) dengan air biasa
 Hindari kompres alkohol dan air es
 Berikan terapi antipiretik dan antibiotik sesuai program
 Anjurkan untuk banyak minum
 Hindari kompres dingin secara intensif
3) Resiko terhadap kerusakan sel otak berhubungan dengan kejang
Kriteria hasil : Tidak terjadi kerusakan sel otak
Tidak terjadi kelumpuhan sampai retardasi mental bila kerusakannya berat.
Intervensi :
 Baringkan pasien ditempat yang rata, kepala dimiringkan dan pasangkan bila ada guedel lebih baik.
 Singkirkan benda-benda yang ada disekitar pasien lepaskan pakaian yang mangganggu pernafasan
 Isap lendir sampai bersih, berikan O2 boleh sampai 4 Lt/mnt
 Bila suhu tinggi berikan kompres dingin beserta infeksi
 Setelah pasien bangun dan sadar berikan minum hangat
 Kolab medis pemberian obat penenang
4) Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit berhubungan dengan kurangnya informasi
Kriteria hasil : Mentaati aturan obat yang diresepkan
Mengungkapkan pemahaman tentang penyakit kejang demam.
Intervensi :
 Jelaskan kembali mengenai patofisiologi/prognosis penyakit dan perlunya pengobatan/penanganan dalam jangka waktu yang lama sesuai indikasi
 Jelaskan agar anak segera diberikan obat antipiretik bila orang tua mengetahui anak mulai demam
 Jika terjadi kejang anak harus dibandingkan ditempat yang rata, kepalanya dimiringklan buka bajunya dan pasangkan gagang sendok yang telah dibungkus kain/sapu tangan yang bersih dalam mulutnya.

DAFTAR PUSTAKA
E Marillyn, Doenges, 2000. Rencana Asuhan Keperawaan Edisi III, Alih Bahasa I Made Kariasa. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Ngastiyah, 1997. Perawatan Anak Sakit, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Mansjoer, Arief, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid II, Media Aesculapius FKUI, Jakarta.

Suriadi, S.Kp, 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak Edisi I.

Tidak ada komentar: