A. PENGERTIAN
Sinusitis adalah radang mukosa sinus para nasal, sesuai sinus yang terkena, dapat dibagi menjadi sinusitis maxila, sinusitis etmoid, sinusitis frontal dan sinusitis sphenoid. (Mangun Kusumo dan Rifki, 1990 : 120)
Sinusitis adalah peradangan pada membran mukosa sinus. (Long, 1996 : 393)
Sinusitis di definisikan sebagai inflamasi antara peradangan pada satu atau lebih sinus paranasal (Reeves, 2001 : 27)
B. ETIOLOGI
a. Virus, bakteri atau jamur, paling sering adalah streptococcus pneumoniae dan haemopilus influenzae (Mansjoer, 2001 : 102)
b. Infeksi apikal dari akar gigi yang menonjol kedalam dasar sinus maxila. (Ballenger, 1994 : 232)
c. Berenang dan menyelam (Ballenger, 1994 : 234)
Faktor predisposisi
- Merokok dan polusi udara (Ballenger, 1994 : 234)
- Deviasi septum (Ballenger, 1995 : 234)
- Rhinitis kronis serta rhinitis alergi (Manun Kusumo dan Rifki, 1990 : 120) menyebabkan obstruksi ositum sinus serta menghasilkan lendir yang banyak, yang merupakan media untuk tumbuh-tumbuhnya bakteri.
C. PATOFISIOLOGI
Bila terjadi edoma dikompleks ostio meatal, mukosa yang letaknya berhadapan akan saling bertemu, sehingga silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat dialirkan. Maka terjadi gangguan drenase dan ventilalsi didalam sinus menjadi lebih kental dan merupakan media yang baik untuk tumbuhnya bakteri patogen. Bila sumbatan berlangsung terus, akan terjadi hipoksia dan retensi lendir sehingga timbul infeksi oleh bakteri anaerob. Selanjutnya terjadi perubahan jaringan menjadi hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista.
D. MANIFESTASI KLINIS
1. Sinusitis akut
- Gejala berlangsung dari beberapa hari sampai 4 minggu.
- Terdapat tanda radang akut
- Gejala sistematik : Demam dan rasa lesu.
- Gejala lokal : Pada hitung terdapat ingus kental yang kadang-kadang berbau dan dirasa mengalir ke nasofaring, dirasakan hidung tersumbat, nyeri di daerah sinus yang terkena serta kadang-kadang dirasakan juga ditempat lain karena nyeri alih.
2. Sinusitis sub akut
- Berlangsung dari 4 minggu – 3 bulan
- Tanda akut sudah reda dan perubahan histologi mukosa sinus masih reversibel.
- Gejala klinis sama dengan sinusitis akut hanya tanda radang akutnya (demam, sakit kepala hebat, nyeri telan) sudah reda.
- Pada rinoskopi anterior tampak sekret purulen dimeatus medius atau superior pada rinoskopi posterior tmpak secret purulen dinasofaring.
- Pada pemeriksaan transiluminasi tampak sinus yang sakit suram atau gelap.
3. Sinusitis Kronis
- Lebih dari 3 bulan, perubahan histologi mukosa sinus sudah irefersibel.
- Sekret dihidung ada sekret pascal nasal.
- Gejala faring, yaitu rasa tidak nyaman dan gatal ditenggorok.
- Pendengaran terganggu oleh karena tersumbatnya tuba eustactius.
- Nyeri kepala.
- Batuk dan kadang-kadang terdapat komlikasi diparu berupa bronchitis, asma, bronchial.
- Gejala disaluran cerna, oleh karena mukopus yang tertelan dapat menyebabkan gastroenteritis, sering pada anak.
- Gejala mata, oleh karena penjalaran infeksi melalui duktus nasolaksimalis.
- Pada rinoskopi anterior, sekret kental purulen dimeatus medius atau meatus superior pada rinoskopi posterior, sekret perulen dinasofaring turun ke tenggorok.
Menurut letak (Hilger, 1997 : 241-246)
a. Sinusitis Maksilaris
- Demam.
- Malaise dan nyeri kepala yang tak jelas yang biasanya reda pada pemberian analgetik.
- Wajah terasa bengkak, penuh dan gigi terasa nyeri pada gerakan kepala mendadak nyeri pipi khas yang timbul dan menusuk, serta nyeri pada palpasi.
- Sekret mukopurulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau busuk.
- Batuk iritatif non produktif.
b. Sinusitis etmoidalis
- Telah lazim pada anak, seringkali bermanifestasi sebagai selulitis orbita. Pada orang dewasa, seringkali bersama-sama dengan sinusitis maksilaris serta dianggap sebagai penyerta simusitis frontalis.
- Gejala berupa nyeri tekan di antara kedua mata diatas jembatan hidung drainase, dan sumbatan hidung.
c. Sinusitis frontalis
- Nyeri kepala yang khas. Nyeri berlokasi diatas alis mata, biasanya pada pagi hari dan buruk menjelang tengah hari kemudian perlahan-lahan mereda menjelang malam.
- Dahi terasa nyeri bila di sentuh.
d. Sinusitis sfenoidalis
- Nyeri kepala yang mengarah ke verteks kranium.
- Penyakit ini lebih lazim menjadi bagian parasinusitis, gejalanya menjadi satu dengan gejala infeksi sinus lainnya.
E. KOMPLIKASI
a. Komplikasi orbita
- Perdagangan atau reaksi edema yang ringan, terjadi pada isi orbita akibat infeksi sinus etmoidalis didekatnya.
- Selulitis orbita, edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif mengivasi isi orbita namun pus belum terbentuk.
- Abses sub peristeal, pus diantara peri orbila dan dinding tulang orbita, menyebabkan proptosis dan kemosis.
- Abses orbita, pus telah menembus periostium dan bercampur dengan isi orbita.
- Trombosis sinus kavernosus, akibat penyebaran bakteri melalui saluran vena kedalam sinus kavernosus, dimana selanjutnya suatu tromboflebitis septic.
b. Mukokel adalah suatu kista yang mengandung mucus yang timbul dalam sinus.
c. Komplikasi intrakranial
• Meningitis akut infeksi dari paranasalis dapat menyebar sepanjang saluran vena atau langsung dari sinus yang beredekatan.
• Abses otak biasanya terjadi melalui troboflebitis yang meluas secara langsung.
d. Ostiomielitis, destruksi tulang frontalis dan pembengkakan jaringan lunak.
e. Toxemia → racun yang beredar dalam darah.
F. PENATALAKSANAAN
a. Sinusitis akut
- Terap medika metosa berupa antibiotic selama 10-14 hari, dapat diperpanjang sampai gejala hilang.
Jenis : Amoksilin, ampisilin, eritromism, sefaklor monotudrat, asetil sekuroksim, trimetoprim sulfametoksazol, amoksillin, asam klavunalat, klaritromisin. Bila dalam 48-72 jam tidak ada perbaikan diganti anti biotik untuk kuman yang menghasilkan beta tak tamesa, yaitu : amoksilin/ampisilin dkombinasi dengan asam klavulanal.
- Dengongestan → memperlancar drainase sinus.
- Sistemik → pseudoefedrin dan fenil propanalomin
- Topikal
- Analgesik → menghilangkan nyeri
- Mukolitik → pengeceran sekret, meningkatkan kerja silia, merangsang pemecahan fibrin.
- Steroid intranasal (antara lain : beklametason, flunisolid, trisonolon) untuk mengurangi edema didaerah kompleks asteomeatal.
- Irigasi nasal dengan Nacl → untuk membantu pemindahan sekret kental dari sinus ke rongga hidung.
b. Sinusitas sub akut
- Medikamentosa berupa antibiotik 10-14 hari.
- Obat-obat sitomatis berupa dekongestan lokal (obat tetes hidung) untuk memperlancar drainase → 5-10 hari.
- Diatermi → dengan sinar gelombang pendek 5-6 x → untuk memperbaiki vaskularisasi sinus jika belum membaik lakukan pencucian sinus.
- Operasi koreksi septum, pengangkatan paip, kokotomi total atau parsial → agar drainase sekret lancar.
c. Sinusitis kronik
- obat-obat simtomatis dan antibiotik 2-4 minggu.
- Steroid nasal tropikal, seperti beklometason anti inflamasi dan anti alergi.
- Fungsi atau antrostomi → memperbaiki drainase dan pembersihan sekret.
- Terapi radikal → mengangkat mukosa yang patologik dan membuat drainase sinus yang terkena.
- Bedah sinus endos kopik fungsional (BSEF).
G. PATHWAY
H. FOKUS PENGKAJIAN
(Long, 1996 : 395)
1. Obstruksi Nares
a. Riwayat bernafas melalui mulut pada siang atau malam, kapan terjadi, lama dan frekuensinya.
b. Riwayat pembedahan hidung akan trauma pada hidung.
c. Penggunaan obat tetes atau semprot hidung, jenis jumlah, frekuensi dan lamanya penggunaan.
2. Sekret hidung
a. Wama, jumlah, dan konsistensi sekret.
b. Perdarahan hidung (epistaksis) dari satu atau nares.
c. Adanya krusta nyeri pada tudung.
3. Riwayat Sinusitis
a. Nyeri kepala, lokasi dan beratnya nyeri.
b. Hubungan sinusitis dengan musim tertentu atau cuaca tertentu.
4. Gejala-gejeala umum lain seperti kematian.
I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
(PRE OP)
1. Nyeri b.d peradangan pada sinus.
2. Gangguan persepsi sensori penciuman b.d sumbatan pada hitung
3. Gangguan pola tidur b.d reaksi peradangan, sumbatan hidung.
4. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas b.d sekresi banyak dan kental.
5. Kurang pengetahuan b/d kurangnya pemberian informasi
(POST OP)
1. Potensial perdarahan b.d pembedahan
2. Kerusakan integritas kulit b.d interupsi mekanis pada kulit atau jaringan.
3. Nyeri b.d pembedahan
J. INTERVENSI KEPERAWATAN
(PRE OP)
1. Kriteria hasil :
a. Gejala nyeri membaik.
b. Pasien dapat mencegah serangan lebih lanjut.
1) Menghindarkan keramaian sewaktu insidensi infeksi tertinggi.
2) Menghindari atergen.
3) Mendaparkan istirahat yang cukup.
4) Makan dengan istirahat yang cukup.
(Long, 1996 : 396)
Intervensi :
a. Kaji adanya faktor-faktor yang memperberat resiko.
b. Kolaborasi dengan dokter, beri obat alergi yang dibutuhkan.
c. Kompres hangat, kompres sedikitnya 4 kali sehari untuk mengurangi rasa sakit dan pengeluaran sekret.
d. Awasi dan laporkan peningkatan rasa sakit kepala daya lihat mengabur putaran edem kedinginan atau muntah-muntah
(Thempson : 1986 : 793)
2. Kriteria hasil :
a. Mengidentifikasi dan menghilangkan faktor resiko yang potensial jika diperlukan.
b. Menggambarkan alasan untuk terapi modalitas.
Intervensi :
a. Meminta obat pencegah alergi dan penyemprotan hidung.
b. Tenangkan pasien bahwa kondisi ini sementara.
3. Kriteria hasil :
a. Menjelaskan faktor-faktor penghambat antara pencegah tidur.
b. Mengidentifikasi tekhnik-tekhnik untuk mempermudah tidur.
Intervensi :
a. Kurangi kebisingan.
b. Meminimalkan sakit kepala, memberikan obat penahan sakit, san meminta obat-obat pencegah alergi antara hidung tersumbat.
c. Yakinkan kepada pasien pentingnya tetes hidung.
4. Kriteria hasil :
a. Pertahankan kepatenan jalan nafas dengan bunyi nafas bersih.
b. Mengeluarkan antara membersihkan sekret dan bebas aspirasi.
Intervensi :
a. Beritahu pasien sebelum operasi bahwa akan dilakukan pembungkusan hidung selama 12-14 jam.
b. anjurkan pada pasien untuk bernafas melalui mulut menjadi perlu dan tembusan hidung yang tidak dapat dibentuk sesudah pembedahan
(Thomson, 1986 : 793)
5. Kriteria hasil :
a. Pasien menyatakan rencana untuk melakukan tindakan lanjut keperawatan.
Intervensi :
a. Jika alergen merupakan salah satu faktor yang berperan terhadap sinusitis.
b. Menggunakan ocetaminofen daripada aspirin untuk mengobati nyeri, pengguna kompres panas pada sinus.
c. Selama sinusitas akut diperlukan istirahat tambahan dan minum 2-3 lt/hari.
(POST)
1. Kriteria hasil :
a. Pasien merasa nyaman.
b. Pasien mengetahui bagaimana mencegah perdarahan hidung atau cara mengatasinya jika hal tersebut terjadi.
Intervensi :
a. Observasinya pasien berdarah setelah pembedahan.
b. Monitor TTV dan pengawasan saat menelan makanan yang mengidentifikasi perdarahan.
c. Hindari menyisi hidung selama + 2 minggu setelah tampon diang
2. Kriteria hasil :
a. Sampai penyembuhan luka
Intervensi :
a. Posisikan pasien semi fowler untuk mencegah edema dan pengeluaran drainase.
b. Gunakan kompres untuk meminimalkan perkembangan dan perdarahan untuk 24 jam pertama, tetap dingin atau ucap pernapasan yang hangat sesuai permintaan.
c. Ganti balutan atau lapisan tetes nasal dan sejumlah catatan dan warna pengeluaran ada kenormalan jumlah kecil darah merah terang dengan beberapa gumpalan beku.
d. Berikan oral higiene.
3. Kriteria hasil :
a. Mengatakan bahwa rasa sakit telah terkontrol atau dihilangkan.
b. Tampak santai, dapat beristirahat atau tidur, dan ikut dalam ADL.
Intervensi :
a. Kaji TTV.
b. Ulangi rekaman intra operatif atau ruang penyembuhan untuk tipe anastesia medikasi yang diberikan sebelumnya.
c. Evaluasi rasa sakit reguler (misal : setiap 2 jam x 12) catata karakteristik lokasi dan intensitas (skala 0-10)
d. Catat munculnya rasa cemas atau takut dan hubungkan dengan lingkungan dan persiapan untuk prosedur.
e. Dorong penggunaan tehnik relaksasi (misal : nafas dalam, bimbingan imajinasi, visualisasi).
f. Observasi efek analgesic.
g. Berikan perawatan oral hygine.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Arif. 2001. Diagnosa Keperawatan. EGC : Jakarta
C. Long, Barbara. 1996. Perawatan Medikal Bedah. EGC : Jakarta
Doengoes, E. Marillyn. 1993. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC : Jakarta
Hil Ger, Peter A. BOIES. 1997. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. FKUI. Jakarta.
Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I. FKUI Jakarta
Ngastiyah. 1997. Perawat Anak Sakit. EGC : Jakarta
Soepardi, E. Arsyad. 2003. THT Kepala Leher. FKUI Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar