Daftar Blog Saya

Kamis, 21 Juli 2011

ILLEUS

A. Pengertian
Ileus adalah hilangnya passage isi usus atau kegagalan usus dalam menyalurkan / meneruskan isinya (Sudoyo, 2006).
Obstruksi usus adalah sumbatan yang disebabkan oleh perlekatan usus, hernia, neoplasma, benda asing, batu empedu yang masuk ke usus, melalui ashila, kolesi, radang usus, struktur, dan hematom (Mansjoer, 2000).
Obstruksi usus adalah blok saluran usus yang menghambat pasase cairan, flatus dan makanan, dapat secara mekanis atau fungsional (Charlene J. reeves, 2001).
Obstruksi usus adalah sumbatan bagi jalan distal isi usus, sumbatan fisik terletak melewati usus atau bila karena suatu ileus, yang berarti ketidakmampuan isi usus menuju ke distal sekunder terhadap kelalaian sementara dalam motilitas (Sabiston, 1995).
Ileus obstruksi adalah sumbatan yang mencegah aliran normal dari isi usus melalui saluran usus (Brunner dan Suddart, 2002).
Ileus Obstruksi adalah kerusakan atau hilangnya pasase isi usus yang disebabkan oleh sumbatan mekanik (Sjamsuhidajat, 2003).
Ileus paralitik : juga dengan adinamik ileus adalah kehilangan aktivitas mekanik pada intestine akibat dari gangguan stimulasi neural sehingga mengakibatkan penurunan atau tidak adanya gerakan peristaltik.

B. Etiologi
1. Adhesi
Adhesi bisa disebabkan oleh riwayat operasi intra abdominal sebelumnya atau proses inflamasi intraabdominal. Perlengketan kongenital juga dapat menimbulkan ileus obstruktif di dalam masa anak-anak.


2. Hernia strangulata
Protrusi usus melalui area yang lemah dalam usus atau dinding atau otot abdomen yang berakibat aliran usus mungkin tersumbat total.
3. Abses
4. Karsinoma
Tumor yang ada dalam dinding usus meluas ke lumen usus atau tumor di luar usus yang menyebabkan tekanan pada dinding usus yang mengakibatkan lumen usus menjadi tersumbat sebagian, bila tumor tidak diangkat mengakibatkat obstruksi lengkap.
5. Volvulus (usus terpelintir)
Usus memutar akibatnya lumen usus menjadi tersumbat sehingga gas dan cairan berkumpul dalam usus yang terjebak.
6. Invaginasi
Salah satu bagian dari usus menyusup kedalam bagian lain yang ada di bawahnya yang berakibat penyempitan lumen usus.
7. Obstipasi
Adanya sembelit karena kejang usus.
8. Enteritis
Peradangan pada usus
9. Ketidakseimbangan elektrolit, khususnya natrium
10. Uremia
11. Usia
Pada lansia terjadi proses degenerasi akibatnya terjadi penurunan peristaltik usus
12. Benda asing (biji buah–buahan, bau empedu, cacing)
13. Infeksi dan gangguan syaraf.
(Tucker, 1998 , A price 1995, Mangkusitepae, 1996)




C. Manifestasi Klinis
1. Nyeri kram yang terasa seperti gelombang dan bersifat kolik.
2. Distensi abdomen
3. Pasien dapat mengeluarkan darah dan mukus, tetapi bukan materi fekal dan tidak dapat flatus.
4. Muntah
5. Dehidrasi
6. Syok
7. Konstipasi
8. Malaise
9. Demam
(Brunner dan Suddart, 2002; Prise, 1999; Tucker, 1998; Mangku Sitepoe, 1996).

D. Patofisiologi
Pada peristiwa potofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa memandang apakah obstruksi usus diakibatkan oleh penyebab mekanik atau fungsional. Apabila pada obstruksi paralitik dimana peristaltik dihambat dari permulaan, pada obstruksi mekanik peristaltik mula-mula diperkuat, kemudian intermiten, dan akhirnya hilang.
Pada potofisiologi akumulasi gas dan cairan di dalam lumen sebelah proksimal dari letak obstruksi. Terjadinya distensi dan retensi cairan mengulangi sekresi cairan dan merangsang. Lebih banyak sekresi lambung. Lumen usus yang tersumbat secara progresif akan terganggu oleh cairan dan gas. ( Price, 1995).
Dalam obstruksi mekanik sederhana, masalahnya sekunder terhadap distensi usus dengan cairan dan gas, toksin yang di buat dari dalam usus yang tersumbat menyebabkan gangguan dasar namun memperlihatkan juga kehilangan cairan dan elektrolit intra lumen. Gas yang ada di dalam usus halus mengandung 70 persen nitrogen, sekitar 10% oksigen dan karbondioksida. Gas intra lumen diserap menurut perbedaan konsentrasi diferensialnya di dalam plasma, udara dan lumen. Sehingga karbondioksida berdifusi cepat keluar dari lumen usus, sedangkan nitrogen tetap tinggal. Segera timbulnya obstruksi mekanik, distensi timbul tepat proximal dan menyebabkan muntah refleks. Setelah mereda, peristaltik melawan obstruksi timbul dalam mendorong isi usus. Peristaltik demikian menyebabkan nyeri episodik, kram dengan masa relatif tanpa nyeri di antara episodik. Gelombang peristaltik lebih sering yang timbul setiap 3 sampai 5 menit di dalam jejenum dan setiap 10 menit di dalam ileum. Aktivitas peristaltik mendorong udara dan cairan melalui gelang usus, yang menyebabkan gambaran auskultasi khas terdengar dalam obstruksi mekanik. Dengan berlanjutnya obstruksi maka aktivitas peristltik menjadi lebih jarang dan akhirnya tidak ada. Yang berhubungan dengan refleks intestinal inhibisi yang mengikuti, dan usus proksimal terdistensi dengan cairan dan udara. Distensi demikian membentuk lingkaran setan yang berlanjut sampai ke selururh usus proksimal obstruksi. Karena usus terdistensi, maka diikuti stasis isi usus, yang menyebabkan pembiakan bakteri yang cepat dan pertumbuhan berlebihan. Jika obstruksi kontinue dan tidak diterapi, maka kemudian timbul muuntah, dan distensi usus, kehilangan air, natrium, kalium, asam lambung, dengan konsentrasi ion hidrogennya yang tinggi menyebabkan alkalosis metabolik. Gejala sisa obstruksi usus mekanik muncul kehilangan cairan ekstra sel, yang menyebabkan penurunan volume intravaskuler, hemokonsentrasi dan oliguri atau anuria. Jika terapi tidak diberikan dalam perjalanan klinik, maka dapat timbul Azotemia, penurunan curah jantung, hipotensi, dan syok.
Obstruksi strangulata suatu obstruksi mekanik dengan sirkulasi terancam pada usus. Obstruksi ini mencakup volvulus, pita lekat, hernia dan aistensi. Dengan strangulasi ada gesekan darah dan plasma ke dalam lumen dan dinding usus. Plasma bisa juga dieksudasi dari sisa serosa dinding usus ke dalam cavitas peritonialis. Mukosa usus yang bertindak sebagai sawar bagi penyerapan bakteri dan produk toksiknya merupakan bagian dinding usus yang sensitif terhadap perubahan dalam aliran darah. Dengan strangulasi memanjang, timbul iskemi dan sawar rusak. Bakteri (bersama dengan endotoksin dan eksotoksin) bisa masuk melalui dinding usus ke dalam cavitas peritonatis. Kehilangan darah dan plasma maupun air ke dalam lumen usus cepat menimbulkan syok dan kematian. Obstruksi gelung tertutup timbul bila jalan masuk dan keluar gelung usus tersumbat. Kemudian berlanjut ke kestrangulasi dengan cepat. Penyebabnya pita lekat melintasi suatu gelong usus, volvulus atau distensi sederhana dan dapat menyebabkan obstruksi aliran keluar vena dan progresifitas. Obstruksi kolon biasanya kurang akut (kecuali bagian volvulus) dibandingkan obstruksi usus halus. Bahaya paling mendesak post obstruksi itu karena distensi. Berdasarkan hukum Laplace yang mendefinisikan tegangan di dalam dinding organ hibular pada tekanan tertentu apapun berhubungan langsung dengan diameter tabung itu, sehingga karena diameter terlebar kolon di dalam caecum, maka biasanya yang pecah pertama.
(Sabiston, 1995)
















E. Pathways






























F. Komplikasi
1. Dehidrasi
2. Ketidakseimbangan elektrolit
3. Asidosis metobolik
4. Perforasi
5. Syok
( Inayah, 2004)
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Sinar X
Menunjukkan kuantitas abnormal dari gas dan cairan dalam usus dan menunjukkan adanya udara di diafragma dan terjadi perforasi usus.
2. Pemeriksaan laoratorium
Misalnya :
a. Pemeriksaan elektrolit dan jumlah darah lengkap.
b. Akan menunjukkan gambaran dehidrasi dan kehilangan volume plasma dan kemungkinan infeksi.
3. Elektrolit, amilase serum
4. Enema barium
5. Pemeriksaan radiologis abdomen.
(Brunner dan Suddart, 2002, Tucker, 1998)

H. Penatalaksanaan
1. Puasa
2. Penghisapan nasointesmal
3. Intervensi bedah
4. Cairan parenteral dengan elektrolit, antibiotik dan vitamin
5. Analgetik
6. Terapi oksigen
7. Decompresi usus melalui selang nasogastik (NGT)
8. Kolonoskopi
9. Sekostomi
10. Kolostomi
11. Reseksi
(Tucker, 1998, Brunner dan Suddart, 2002 )

I. Proses Keperawatan
a. Pengkajian Data Dasar
Data dasar adalah dasar untuk mengindividualisasikan rencana Asuhan Keperawatan, mengembangkan dan memperbaiki sepanjang waktu Asuhan Keperawatan untuk klien. Pengumpulan data harus berhubungan dengan masalah kesehatan tertentu, dengan kata lain data pengkajian harus relevan.
1. Biodata yang meliputi identitas pasien dan penanggung jawab.
2. Riwayat Keperawatan
Riwayat keperawatan didapatkan dengan pengkajian dari penyakit saat ini, riwayat kesehatan masa lalu, dan riwayat kesehatan keluarga. Pada pengkajian riwayat penyakit saat ini diperoleh dengan mengumpukan data yang penting dan terbatas tentang awitan gejala. Perawat menentukan kapan gejala timbul, apakah gejala selalu timbul, atau hilang dan timbul. Perawat juga menanyakan tentang durasi gejala. Pada bagian tentang riwayat penyakit saat ini perawat mendapatkan informasi spesifik, seperti letak, intensitas, dan kualitas gejala.
Pada kasus obstruksi usus, riwayat kesehatan masa lalu berisi tentang, pernah atau tidak pernah pembedahan abdomen, prosedur therapy, radiasi dan gangguan medical (penyakit crhon, kolitis useratif, divertikula, divertikolitis, hernia, dan tumor). Bagaimana perawatannya ? Apa diagnosisnya ? dan Bagaimana riwayat dietnya ? (Donna, 1991).
Pengkajian pada riwayat keluarga adalah untuk mendapatkan data tentang hubungan kekeluargaan langsung dan hubungan darah. Sasarannya adalah untuk menentukan apakah klien beresiko terhadap penyakit yang bersifat genetik atau familiar dan mengidentifikasi area tentang promosi kesehatan dan pencegahan penyakit. Riwayat keluarga juga memberikan informasi tentang struktur keluarga, interaksi dan fungsi yang mungkin berguna dalam merencanakan asuhan keperawatan. ( Potter, 2005). Dan pada kasus dengan obstruksi usus, riwayat keluarga didapatkan seperti kanker kolon, dan rektum, perubahan dalam eliminasi BAB misalnya terdapat darah. (Donna, 1991)
3. Pola Fungsional
Pada pola pengkajian fungsional penulis menmggunakan pola pengkajian menurut gordon, karena teori keperawatan gordon mencakup pola kehidupan sehari-hari terutama pola eliminasi.
Berikut ini adalah pola kehidupan sehari-hari menurut gordon:
1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
2. Pola nutrisi dan metabolisme
3. Pola eliminasi
4. Pola istirahat dan tidur
5. Pola aktivitas dan latihan
6. Pola hubungan dan peran
7. Pola sensori kognitif
8. Pola persepsi dan konsep diri
9. Pola seksual dan reproduksi
10. Mekanisme penanggulangan stress dan koping
11. Tata nilai dan kepercayaan
4. Pengkajian Fisik
Pengajian fisik ini di fokuskan pada sistem pencernaan, terutama pada obstruksi usus.
a. Pengkajian fisik meliputi pengkajian secara khusus ;
1) Pada usus halus ditemukan nyeri abdomen seperti : kram, peningkatan distensi, distensi ringan, mual, muntah : pada awal mengandung makanan tidak dicerna cepat dan selanjutnya muntah air dan mengandung empedu, hitam dan fekal, dehidrasi cepat : Asidosis.
2) Pada usus besar, ditemukan ketidaknyamanan abnormal ringan, distensi berat, muntah, fekal, laten, dehidrasi laten.
b. Pengkajian secara umum ditemukan, anoreksia, malaise, demam, takikardi, diaforesia, pucat, kekakuan abdomen, kegagalan untuk mengeluarkan feces atau flatus secara rectal atau perostomi , peningkatan bising usus (awal obstruksi), penurunan bising usus, retensi perkemihan, leukositosis dan pemeriksaan objektif turgor kulit buruk. (Tucker, 1998 : 325).
c. Pada pemeriksaan abdomen ditemukan distensi, parut abdomen, (yang menggambarkan perlekatan pasca bedah), hernia, dari masa abdomen, pasien kurus, nyeri kolik, nyeri tekan, auskultasi, gambaran dalam obstruksi usus mekanik adalah kehadiran episodik gemerincing, logam bernada tinggi dan gelora (rush) di antara masa tenang, tidak ada busing usus/menurun.
d. Bagian akhir yang diharuskan dari pemeriksaan adalah pemeriksaan rektum dan pelvis, ditemukan massa atau tumor serta tak adanya feces di dalam kubah rectum. Menggambarkan obstruksi proksimal. Jika darah makroskopik atau feces positif guaiak ditemukan di dalam rektum,mata obsruksi didasarkan atas lesi instrinsik di dalam usus (Sabiston, 1999 ).

b. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan obstruksi usus (menekan dinding usus).
2. Defisit volume cairan berhubungan dengan muntah, kehilangan cairan dari rute abnormal misalnya penghisap NG/intestial.
3. Nyeri (akut) berhubungan dengan insisi bedah.
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan ketidak adekuatan pertahanan primer misalnya, masyarakat kronis, prosedur invasif
5. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan makan, anoreksia
6. Gangguan pola eleminasi berhubungan obstruksi usus.

c. Intervensi
1. Nyeri berhubungan dengan obstruksi usus (menekan dinding usus).
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri hilang atau berkurang
Kriteria hasil : Melaporkan nyeri hilang, tampak rileks, mampu beristirahat, skala nyeri 0-3
Intervensi :
a. Kaji karakteristik nyeri
Rasional : Membantu mengidentifikasi intervensi yang tepat dan mengevaluasi keefektifan analgesia.
b. Anjurkan pasien untuk melaporkan nyeri segera saat nyeri timbul .
Rasional : Untuk memudahkan pemulihan otot/jaringan yang menurunkan ketegangan otot dan memperbaiki sirkulasi.
c. Pantau tanda–tanda vital
Rasional : Untuk mengetahui adanya perubahan TD, N, RR,S, dan mengetahui kondisi pasien.
d. Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi
Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan.
e. Beri posisi yang nyaman
Rasional : Memberikan dukungan, menurunkan ketegangan otot, meningkatkan relaksasi, meningkatkan rasa kontrol dan kemampuan koping.
f. Ambulasikan pasien segera mungkin
Rasional : Menurunkan hasil yang terjadi karena immobilisasi misalnya : tegangan otot, tertahannya flatus.
g. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgetik
Rasional : mengurangi nyeri dengan aturan terapeutik.
2. Defisit volume cairan berhubungan dengan muntah, kehilangan cairan dari rute abnormal misalnya penghisap NG/intestial.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkaan defisit volume cairan dapat teratasi
Kriteria hasil : Mempertahankan hidrasi adekuat dengan membran mukosa lembab, turgor klit dan pengisian kapiler baik, tanda vital stabil.
Intervensi :
a. Pantau tanda–tanda vital
Rasional : Tanda–tanda awal hemorogi usus/pembentukan hematoma, yang dapat menyebabkan syok hipovolemik.
b. Kaji tanda–tanda dehidrasi.
Rasional : Memberikan informasi tentang volume sirkulasi umum dan tingkat hidrasi.
c. Pantau masukan dan keluaran
Rasional : indikator langsung dan hidrasi/perfusi organ dan fungsi, dan memberikan pedoman untuk penggantian cairan.
d. Kolaborasi dengan tim medis.
Berikan cairan sesuai indikasi
Rasional : Meningkatkan cairan dalam tubuh sehingga kebutuhan cairan terpenuhi
3. Nyeri (akut) berhubungan dengan insisi bedah.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri hilang atau berkurang
Kriteria hasil : Melaporkan nyeri hilang, tampak rileks, mampu beristirahat, skala nyeri 0-3
Intervensi :
a. Kaji karakteristik nyeri
Rasional : Membantu mengidentifikasi intervensi yang tepat dan mengevaluasi keefektifan analgesia.
b. Anjurkan pasien untuk melaporkan nyeri segera saat mulai yeri timbul .
Rasional : Untuk memudahkan pemulihan otot/jaringan yang menurunkan ketegangan otot dan memperbaiki sirkulasi.
c. Pantau tanda–tanda vital
Rasional : Untuk mengetahui adanya perubahan TD, N, RR,S, dan mengetahui kondisi pasien.
d. Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi
Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan.
e. Beri posisi yang nyaman
Rasional : Memberikan dukungan, menurunkan ketegangan otot, meningkatkan relaksasi, meningkatkan rasa kontroln dan kemampuan looping.
f. Ambulasikan pasien segera mungkin
Rasional : menurunkan hasil yang terjadi karena immobilisasi misalnya : tegangan otot, tertahannya flatus.
g. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgetik
Rasional : mengurangi nyeri dengan aturan terapeutik.
4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan ketidak adekuatan pertahanan primer misalnya, masyarakat kronis, prosedur invasif.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil : Mencapai pemulihan luka tepat waktu, bebas dari drainase, purulen, atau eritema dan demam.
Intervensi :
a. Pantau tanda–tanda vital
Rasional : Untuk menandakan infeksi luka atau pembentukan tromboflebitis, karena demam 38,3% dari awitan tiba–tiba disertai dengan menggigil, kelelahan, kelemahan, takipnea, takikardia dan hipotensi menandakan syok septik dan peningkatan suhu 4–7 hari setelah pembedahan menandakan abses luka.
b. Kaji tanda–tanda infeksi
Rasional : perkembangan infeksidapat memeperlambat pemulihan.
c. Pertahankan perawatan luka aseptik dan balutan kering.
Rasional : melindungi pasien dari kontaminasi selama penggantian balutan.
d. Kolaborasi dengan tim medis.
Rasional : untuk mengurangi atau mengatasi infeksi.
5. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan makan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi dapat terjadi
Kriteria hasil : Peningkatan BB.
Intervensi :
a. Kaji poia makan
Rasional : untuk mengetahui kebiasaan makan sehari–hari.
b. Timbang BB
Rasional : untuk mengetahui keadaan status nutrisinya.
c. Pantau masukan dan keluaran
Rasional : mengidentifikasi status cairan serta memastikan kebutuhan metabolik.
d. Anjurakan untuk makan sedikit tapi sering.
Rasional : Untuk menghilangkan rasa mual dan untuk mencukupi kebutuhan nutrisinya.
e. Gunakan plester kertas untuk balutan sesuai indikasi
Rasional : Penggantian balutan sering dapat mengakibatkan kerusakan pada kulit karena perlekatan yang kuat.
f. Ajarkan tiah baring
Rasional : menurunkan tegangan intra abdomen.

6. Gangguan pola eleminasi berhubungan dengan obstruksi usus
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan gangguan pola eleminasi dapat teratasi
Kriteria hasil : Mendapatkan kembali pola fungsi eleminasi yang normal.
Intervensi :
a. Auskultasi bising usus
Rasional : Mengetahui kembalinya fungsi GI mungkin terlambat oleh efek depresi dari anestesi internasional.
b. Kaji keluhan nyeri abdomen
Rasional : Mengetahui adanya distensi gas atau terjadinnya komplikasi
c. Anjurkan untuk makan cair
Rasional : Menurunkan resiko iritasi mukosa/diare.
d. Kolaborasi dengan tim medis
Rasional : Merangsang peristaltik dengan peristaltik dengan perlahan/evaluasi feces.
(Doenges, 2000)

Tidak ada komentar: