Daftar Blog Saya

Selasa, 21 April 2009

SERUMEN

A. Definisi
1. Impaksi Serumen
Impaksi serumen adalah gangguan pendengaran yang timbul akibat penumpukan serumen di liang telinga dan menyebabkan rasa tertekan yang mengganggu (Mansjoer, Arif :1999)
Serumen, yang kerap disebut kotoran telinga, merupakan produksi alami telinga. Substansi itu dibentuk oleh kelenjar seruminosa yang terletak di sepertiga luar liang telinga. Alih-alih "sampah", serumen memiliki tugas cukup penting. Di antaranya, menangkap debu, mikroorganisme, dan mencegahnya masuk ke struktur telinga yang lebih dalam.Selain itu juga akan menonaktifkan kuman/bakteri, menjaga kelembaban liang telinga,hingga menangkap serangga yang terperangkap masuk ke lubang telinga.Beragam fungsi tersebut dimungkinkan karena kekhasan sifatnya yang lengket,kental serta berbau yang khas.
Usaha untuk mengeluarkan (mengorek) dengan batang korek, jepit rambyt atau benda lain akan dapat berbahaya karena dapat mengakibatkan kotoran terdorong ke dalam (dapat menyumbat karena bagian dalam lebih sempit), serta adanya trauma terhadap kulit dan dapat menyebabkan infeksi dan kerusakan gendang telinga dan akhirnya dapat menyebabkan impaksi,otalgia (nyeri pada telinga) atau bahkan kehilangan pendengaran.
Sejatinya, tanpa dikorek pun, tubuh punya mekanisme untuk mengeluarkan substansi tersebut secara otomatis. Karena itu, sering terjadi kotoran tiba-tiba jatuh dari liang telinga. Kotoran tersebut akan terdorong ke luar, terutama ketika kita membuka rahang lebar-lebar atau tidur miring,
Tapi, ada kalanya serumen tak mau keluar dan betah bersarang di liang telinga, terutama bila produksinya berlebih. Bila itu terjadi, serumen terpaksa harus dikeluarkan secara manual supaya tidak mengganggu pendengaran.
Telinga memang harus dibersihkan agar tidak mengganggu pendengaran. Namun, cara membersihkannya tidak boleh sembarangan.Cara membersihkan yang salah bisa-bisa malah merusak fungsi telinga.
Berikut tip membersihkan telinga.
• Jangan terlalu sering membersihkan telinga. Cukup seminggu sekali.
• Bila kotoran terasa penuh dan banyak, sebaiknya minta bantuan dokter spesialis. Usahakan tidak membersihkan secara mandiri. Selain kita tidak tahu seberapa dalam mengorek liang telinga, mungkin kotoran justru akan semakin terdorong ke dalam.
• Kalau ingin membersihkan telinga, gunakan cotton bud yang telah dibasahi air bersih. Jangan memakai pengorek telinga yang terbuat dari besi atau kayu. Sangat berisiko telinga terluka. Membersihkannya pun jangan terlampau dalam. Cukup 1/3 luar liang telinga saja.
• Saat membersihkan, gunakan gerakan mengorek keluar, bukan gerakan mendorong ke dalam.
• Disarankan mengunjungi dokter setidaknya enam bulan sekali untuk memeriksakan kesehatan telinga
2. benda asing di liang telinga
Benda asing diliang telinga diartikan sebagai masuknya benda asing di lubang telinga. Dalam hal ini akan terasa tidak enak ditelinga, tersumbat dan pendengaran terganggu. Rasa nyeri akan timbul, bila benda asing itu berupa serangga yang masuk dan bergerak serta melukai dinding liang telinga.
Namun terkadang hal ini disengaja untuk membersihkan kanalis eksternus atau mengurangi rasa gatal atau pada anak kecil yang memasukan benda tersebut kedalam telinganya sendiri.
B. Etiologi
Adanya impaksi serumen dan benda asing diliang telinga, secara umum terdapat beberapa faktor predisposisi, antara lain: dermatitis kronik pada telinga luar, liang telinga sempit, produksi serumen terlalu banyak dan kental, benda asing diliang telinga, terdorongnya serumen ke lubang lebih dalam (karena kebiasaan mengorek telinga).
C. Tanda dan Gejala
Impaksi serumen dan benda asing, dapat diketahui dengan adanya:
• Pada inspeksi telinga dengan atau tanpa corong telinga (otoskop), atau tampak benda asing.
• Penumpukan serumen.
• Gatal, rasa nyeri, dan rasa penuh ditelinga.
• Gangguan pendengaran (ditemukan dengan pemeriksan ketajaman pendengaran.
• Kemungkinan infeksi, akan ditemukan tanda dan gejalanya.
D. Patofisiologi
Mengorek telinga, produksi serumen terlalu banyak, dermatitis pada telinga luar


Impaksi serumen


komplikasi Gangguan pendengaran



peradangan

otitis eksterna,eksim














E. Komplikasi dan Penatalaksanaannya
1. Penyumbatan
Kotoran telinga (serumen) bisa menyumbat saluran telinga dan menyebabkan gatal-gatal, nyeri serta tuli yang bersifat sementara.
dokter akan membuang serumen dengan cara menyemburnya secara perlahan dengan menggunakan air hangat (irigasi). tetapi jika dari telinga keluar nanah, terjadi perforasi gendang telinga atau terdapat infeksi telinga yang berulang, maka tidak dilakukan irigasi. jika terdapat perforasi gendang telinga, air bisa masuk ke telinga tengah dan kemungkinan akan memperburuk infeksi. pada keadaan ini, serumen dibuang dengan menggunakan alat yang tumpul atau dengan alat penghisap.
biasanya tidak digunakan pelarut serumen karena bisa menimbulkan iritasi atau reaksi alergi pada kulit saluran telinga, dan tidak mampu melarutkan serumen secara adekuat.
Anak-anak sering memasukkan benda-benda kecil ke dalam saluran telinganya, terutama manik-manik, penghapus karet atau kacang-kacangan.
biasanya benda-benda tersebut oleh dokter dikeluarkan dengan bantuan kait yang tumpul. Benda-benda yang masuk terlalu dalam lebih sulit dikeluarkan karena memiliki resiko menimbulkan cedera pada gendang telinga dan tulang-tulang pendengaran di telinga tengah. kadang manik-manik dari kaca atau logam dikeluarkan dengan cara irigasi. jika anak meronta-ronta atau pengeluaran benda sulit dilakukan, bisa dilakukan pembiusan umum.
Gangguan yang timbul akibat sumbatan serumen
1. Pendengaran berkurang.
2. Timbul rasa nyeri di telinga karena serumen yang mengeras menekan dinding liang telinga.
3. Telinga berdengung (tinitus).
4. Pusing merasa berputar (vertigo).
Cara membersihkan elinga yang kotor:
1. Serumen yang masih lembek bisa dibersihkan dengan kapas yang dililit pada aplikator (pelilit).
2. Serumen yang keras dikait dengan alat pengait dilakukan oleh ahlinya.
3. Serumen yang lembek dan letaknya terlalu dalam dikeluarkan dengan cara mengirigasi liang telinga asal membran timpani utuh tidak berlobang.
4. Serumen yang keras harus dilembekkan dulu dengan karbol gliserin 10% 3 kali 3 tetes sehari selama 3-5 hari setelah itu dikait dengan alat pengait atau diirigasi.
2. Otitis Eksterna
Otitis eksterna adalah suatu infeksi pada saluran telinga.
infeksi ini bisa menyerang seluruh saluran (otitis eksterna generalisata) atau hanya pada daerah tertentu sebagai bisul (furunkel). otitis eksterna seringkali disebut sebagai telinga perenang (swimmer's ear).
Sejumlah bakteri atau jamur (lebih jarang) bisa menyebabkan otitis eksternageneralisata; bakteri stafilokokus biasanya menyebabkan bisul.
orang-orang tertentu (penderita alergi, psoriasis), eksim atau dermatitis pada kulit kepala) sangat peka terhadap otitis eksterna. cedera pada saluran telinga ketika sedang membersihkannya atau masuknya air/bahan iritan (misalnya hari spray atau cat rambut) bisa menyebabkan otits eksterna.
Saluran telinga bisa membersihkan dirinya sendiri dengan cara membuang sel-sel kulit yang mati dari gendang telinga melalui saluran telinga.
Membersihkan saluran telinga dengan cotton bud (kapas pembersih) bisa mengganggu mekanisme pembersihan ini dan bisa mendorong sel-sel kulit yang mati ke arah gendang telinga sehingga kotoran menumpuk disana.
penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan penimbunan air yang masuk ke dalam saluran ketika mandi atau berenang. kulit yang basah dan lembut pada saluran telinga lebih mudah terinfeksi oleh bakteri atau jamur.
Gejala-gejala dari otitis eksterna generalisata adalah gatal-gatal, nyeri dan keluarnya cairan berbau busuk. jika saluran telinga membengkak atau terisi oleh nanah dan sel-sel kulit yang mati, maka bisa terjadi gangguan pendengaran.
Biasanya jika daun telinga ditarik atau kulit didepan saluran telinga ditekan, akan timbul nyeri. dengan menggunakan otoskop, kulit pada saluran telinga tampak merah, membengkak dan penuh dengan nanah dan sel-sekulityang mati.
Bisul menyebabkan nyeri yang hebat. jika bisul ini pecah, akan keluar darah dan nanah dari telinga.
Untuk mengobati otitis eksterna generalisata, pertama-tama dilakukan pembuangan sel-sel kulit mati yang terinfeksi dari saluran telinga dengan alat penghisap atau kapas kering. setelah saluran telinga diersihkan, fungsi pendengaran biasanya kembali normal. biasanya diberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik selama bebarapa hari. beberapa tetes teling ada yang mengandung kortikosteroid untuk mengurangi pembengkakan.
kadang diberikan obat tetes telinga yang mengandung asam asetat untuk mengembalikan keasaman pada saluran telinga.
Untuk mengurangi nyeri pada 24-48 jam pertama bisa diberikan acetaminophen atau codein. infeksi yang sudah menyebar keluar saluran telinga (selulitis) diobati dengan antibiotik per-oral (melalui mulut).
Bisul dibiarkan pecah dengan sendirinya karena jika sengaja disayat bisa menyebabkan penyebaran infeksi. obat tetes telinga yang mengandung antibiotik tidak efektif. untuk meringankan nyeri dan mempercepat penyembuhan bisa dilakukan pengompresan hangat (sebentar saja) dan pemberian obat pereda nyeri.

3. Perikondritis
Perikondritis adalah suatu infeksi pada tulang rawan (kartilago) telinga luar.perikondritis bisa terjadi akibat:
• cedera
• gigitan serangga
• pemecahan bisul dengan sengaja.
Nanah akan terkumpul diantara kartilago dan lapisan jaringan ikat di sekitarnya (perikondrium). kadang nanah menyebabkan terputusnya aliran darah ke kartilago, menyebabkan kerusakan pada kartilago dan pada akhirnya menyebabkan kelainan bentuk telinga. meskipun bersifat merusak dan menahun, tetapi perikondritis cenderung hanya menyebabkan gejala-gejala yang ringan.
Untuk membuang nanahnya, dibuat sayatan sehingga darah bisa kembali mengalir ke kartilago. untuk infeksi yang lebih ringan diberikan antibiotik per-oral, sedangkan untuk infeksi yang lebih berat diberikan dalam bentuk suntikan. pemilihan antibiotik berdasarkan beratnya infeksi dan bakteri penyebabnya.
4. Eksim
Eksim pada telinga merupakan suatu peradangan kulit pada telinga luar dan saluran telinga, yang ditandai dengan gatal-gatal, kemerahan, pengelupasan kulit, kulit yang pecah-pecah serta keluarnya cairan dari telinga.
Keadaan ini bisa menyebabkan infeksi pada telinga luar dan saluran telinga. penanganannya dapatdioleskan larutan yang mengandung alumunium asetat (larutan burow). untuk mengatasi gatal-gatal dan peradangan bisa diberikan krim atau salep corticosteroid. jika daerah yang terkena mengalami infeksi, bisa diberikan salep atau obat tetes antibiotik.
5. Cedera
Cedera pada telinga luar (misalnya pukulan tumpul) bisa menyebabkan memar diantara kartilago dan perikondrium. jika terjadi penimbunan darah di daerah tersebut, maka akan terjadi perubahan bentuk telinga luar dan tampak massa berwarna ungu kemerahan.
Darah yang tertimbun ini (hematoma) bisa menyebabkan terputusnya aliran darah ke kartilago sehingga terjadi perubahan bentuk telinga. kelainan bentuk ini disebut telinga bunga kol, yang sering ditemukan pada pegulat dan petinju.
Untuk membuang hematoma, biasanya digunakan alat penghisap dan penghisapan dilakukan sampai hematoma betul-betul sudah tidak ada lagi (biasanya selama 3-7 hari). dengan pengobatan, kulit dan perikondrium akan kembali ke posisi normal sehingga darah bisa kembali mencapai kartilago.
Jika terjadi robekan pada telinga, maka dilakukan penjahitan dan pembidaian pada kartilagonya.
Pukulan yang kuat pada rahang bisa menyebabkan patah tulang di sekitar saluran telinga dan merubah bentuk saluran telinga dan seringkali terjadi penyempitan. perbaikan bentuk bisa dilakukan melalui pembedahan.
6. Tumor
Tumor pada telinga bisa bersifat jinak atau ganas (kanker).
tumor yang jinak bisa tumbuh di saluran telinga, menyebabkan penyumbatan dan penimbunan kotoran telinga serta ketulian.
Contoh dari tumor jinak pada saluran telinga adalah:
• kista sebasea (kantong kecil yang terisi sekresi dari kulit)
• osteoma (tumor tulang)
• keloid (pertumbuhan dari jaringan ikat yang berlebihan setelah terjadinya cedera).
Seruminoma (kanker pada sel-sel yang menghasilkan serumen) bisa tumbuh pada sepertia saluran telinga luar dan bisa menyebar.
untuk mengatasinya dilakukan pembedahan untuk mengangkat kanker dan jaringan di sekitarnya.
Kanker sel basal dan kanker sel skuamosa seringkali tumbuh di pada telinga luar setelah pemaparan sinar matahari yang lama dan berulang-ulang.
pada stadium dini, bisa diatasi dengan pengangkatan kanker atau terapi penyinaran.
Pada stadium lanjut, mungkin perlu dilakukan pengangkatan daerah telinga luar yang lebih luas. jika kanker telah menyusup ke kartilago, dilakukan pembedahan.
Kanker sel basal dan sel skuamosa juga bisa tumbuh di dalam atau menyebar ke saluran telinga. keadaan ini diatasi dengan pembedahan untuk mengangkat kanker dan jaringan di sekitarnya yang diikuti dengan terapi penyinaran.

Minggu, 04 Januari 2009

ANEMIA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Fisiologi
Darah yaitu suatu jaringan tubuh yang terdapat di dalam pembuluh darah yang warnanya merah. Darah terdiri atas 2 bagian, yaitu unsur berbentuk atau sel-sel darah (eritrosit, trombosit, dan leukosit) dan plasma. volume darah secara keseluruhan kira-kira merupakan satu perdua belas berat badan atau kira-kira 5 liter. Sekitar 55 % adalah cairan sedangkan 45% sisnya terdiri dari sel darah.
Fungsi darah terdiri atas :
1) Sebagai alat pengangkut oksigen.
2) Sebagai pertahanan tubuh
3) Menyebarkan panas keseluruh tubuh
Sel darah merah atau eritrosit berupa cakram kecil bikonkaf, cekung pada kedua sisinya sehingga dilihat dari samping nampak seperti dua buah bulan sabit yang saling bertolak belakang. Dalam setiap millimeter kubik darah terdapat 5.000.000 sel darah. Kalau dilihat satu persatu warnanya kuning tua pucat,tetapi dalam jumlah besar kelihatan merah dan memberi warna pada darah.
Hemoglobin adalah protein yang kaya akan zat besi. Ia memiliki afinitas dengan oksigen dan dengan oksigen ia membentuk oxihemoglobin didalam sel darah merah. Dengan melalui fungsi ini maka oksigen dibawa dari paru-paru ke jaringan-jaringan. Jumlah hemoglobin dalam darah normal kira-kira 15 gram setiap 100 ml darah.
B. Definisi
Anemia (dalam bahasa Yunani: Tanpa darah) adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada dibawah normal.
Anemia adalah gejala dari kondisi yang mendasari, seperti kehilangan komponen darah, elemen tak adekuat, atau kurang nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah, yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah. (Marilynn E. Doenges)
Anemia adalah suatu kedaan dimana kadar Hb danatau hitung eritrosit lebih rendah dari harga normal.dikatakan anemia apabila Hb <14g/dl dan Ht <41% pada pria atau Hb <12g/dl dan Ht <37% pada wanita (Arif Mansjoer)
Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit dibawah normal.Anemia bukan merupakan penyakit melainkan pencerminan keadaan suatu penyakit atau gangguan fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengngkut oksigen ke jaringan. (Brunner & Suddarth)
Macam-macam anemia :
1. Anemia Mikrositik Hipokrom
a. Anemia Defisiensi Besi
Anemia defisiensi besi adalah keadaan dimana kandungan besi tubuh total turun dibawah tingkat normal
Etiologi
penyebab tersering defisiensi besi pada pria dan wanita pascamenopouse adalah perdarahan atau malabsorbsi,terutama setelah reseksi gaster. Penyebab lain dari anemia defisiensi besi antara lain :
 Makanan tidak cukup mengandung Fe
 Komposisi makanan tidak baik untuk penyerapan Fe (banyak sayuran, kurang daging)
 Gangguan penyerapan Fe (penyakit usus, reseksi usus)
 Kebutuhan Fe meningkat (pertumbuhan yang cepat, pada bayi dan adolesensi, kehamilan)
 Perdarahan kronik atau berulang (epistaksis, hematemesis, ankilostomiasis).
Pemeriksaan Penunjang
 Hemoglobin, Hct dan indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC) menurun
 Hapus darah tepi menunjukkan hipokromik mikrositik
 Kadar besi serum (SI) menurun dan TIBC meningkat , saturasi menurun
 Kadar feritin menurun dan kadar Free Erythrocyte Porphyrin (FEP) meningkat
 Sumsum tulang : aktifitas eritropoitik meningkat


Manifestasi klinis
Selain gejala-gejala umum anemia, defisiensi anemia yang berat akan mengakibatkan perubahan kulit dan mukosa yang progresif, seperti lidah yang halus, keilosis, dan sebagainya. Didapatkan tanda-tanda malnutrisi.
Penatalaksanaan
a. Mengatasi penyebab perdarahan kronik, misalnya pada ankilostomiasis diberikan antelmintik yang sesuai.
b. Pemberian preparat Fe :
• Fero sulfat 3x325 mg secara oral dalam keadaan perut kosong, dapat dimulai dengan dosis yang rendah dan dinaikan bertahap. Pada pasien yan tidak kuat dapat diberikan bersama makanan.
• Fero glukonat 3x200 mg secara oral sehabis makan. Bila terdapat intoleransi terhadap pemberian preparat Fe oral atau gangguan pencernaan sehingga tidak dapat diberikan oral, dapat diberikan secara parenteral dengan dosis 250 mg Fe (3mg/kg BB) untuk tiap g% penurunan kadar Hb dibawah normal.
b. Anemia Penyakit Kronik
Anemia ini dikenal pula dengan nama sideropenic anemia with reticuloendothelial siderosis. Berbagai penyakit inflamasi kronis berhubungan dengan anemia jenis normositik normokronik (sel darah merah dengan ukuran dan warna yang normal).kelainan ini meliputi arthritis rematoid, abses paru, osteomielitis, tuberkolosis, dan berbagai keganasan.
Etiologi
 Penyakit ini banyak dihubungkan dengan berbagai penyakit infeksi,seperti infeksi ginjal, paru (bronkiektasis, abses, empiema).
 Inflamasi kronik, seperti arthritis rheumatoid.
 Neoplasma, seperti limfoma malignum, dan nekrosis jaringan.


Manifestasi klinis
Berat ringannya anemia berbanding lurus dengan aktifitas penyakit. Hematokrit biasanya berkisar antara 25-30%, biasanya normositik atau normokrom.apabila disertai dengan penurunan kadar besi dalam serum atau saturasi transferin, anemia akan berbentuk hipokrom mikrositik. Pemeriksaan sumsum tulang biasanya normal, kadang-kadang ditemukan hipoplasia eritropoesis dan defek dalam hemoglobinase. Yang sangat karakteristik adalah berkurangnya sideroblas dalam susmsum tulang, sdangkan deposit besi dalam system retikuloendotelial (RES) normal atu bertambah.
Penatalaksanaan
Terapi terutama ditujukan pada penyakit dasarnya. Pada anemia yang mengancam nyawa dapat diberikan tranfusi darah merah seperlunya. Pengobatan dengan suplementasi besi, tidak diindikasikan,kecuali untuk mengatasi anemia pada arthritis rheumatoid. Pemberian kobalt dan eritropoetin dikatakan dapat memperbaiki anemia pada penyakit kronik.
2. Anemia Makrositik
a. Defisiensi Vitamin B12/Anemia Pernisiosa
kekurangan vitamin B12 bisa disebabkan oleh factor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Kekurangan vitamin B12 akibat factor intrinsic terjadi karena gangguan absorpsi vitamin yang merupakan penyakit herediter autoimun, sehingga pada pasien mungkin dijumpai penyakit-penyakit autoimun lainnya. Kekurangan vitamin B12 karena factor intrinsic ini tidak dijumpai di Indonesia. Yang lebih sering dijumpai diindonesia adalah penyebab intriksik karena kekurangan masukan vitamin B12 dengan gejala-gejala yang tidak berat.
Manifestasi Klinis
Didapat adanya anoreksia, diare, dyspepsia, lidah, yang licin, pucat, dan agak ikterik. Terjadi gangguan neurologist, biasanya dimulai dengan parestesia, lalu gangguan keseimbangan, dan pada kasus yang berat terjadi perubahan fungsi serebal, demensia, dan perubahan neuropsikiatrik lainnya.
Pemeriksaan Penunjang
Sel darah merah besar-besar (makrositik), MCV ≥ 100 fmol/l, neurofil hipersegmentasi. Gambaran sumsum tulang megaloblastik. Sering ditemukan dengan gastritis atrofi (dalam jangka waktu lama dikaitkan dengan peningkatan resiko karsinoma gaster), sehingga menyebabkan aklorhidria. Kadar vitamin B12 serum kurang dari 100 pg/ml.
Penatalaksanaan
Pemberian vitamin B12 1.000 mg/hari selama 5-7 hari, 1 kali tiap bulan.
b. Defisiensi Asam Folat
Anemia defisiensi asam folat adalah anemia makrositik normokromik akibat defisiensi asam folat.
Asam folat terutama terdapat dalam daging, susu, dan daun-daun yang hijau. Umumnya berhubungan dengan malnutrisi. Penurunan absorbsi asam folat jarang ditemukan karena absorbsi terjadi di seluruh saluran cerna. Juga berhubungan dengan sirosis heptis, karena terdapat penurunan cadangan asam folat.
Manifestasi Klinis
Gejala dan tanda pada anemia defisiensi asam folat sama dengan anemia defisiensi vitamin B12, yaitu anemia megaloblastik dan perubahan megaloblastik dan perubahan megaloblastik pada mukosa, mungkin dapat ditemukan gejala-gejala neurologist, seperti gangguan kepribadian dan hilangnya daya ingat.
Penatalaksanaan
Meliputi pengobatan terhadap penyebabnya dan dapat dilakukan pula dengan pemberian/ suplementasi asam folat oral 1mg/hr.
3. Anemia Karena Perdarahan
Anemia karena perdarahan terbagi atas :
a. Perdarahan Akut
Mungkin timbul renjatan bila pegeluaran darah cukup banyak, sedangkan penurunan kadar Hb baru terjadi beberapa hari kemudian.
Penatalaksanaan :
 mengatasi perdarahan.
 Mengatasi renjatan dengan transfusi darah atau pemberian cairan perinfus.
b. Perdarahan Kronik
Pengeluaran darah biasanya sedikit-sedikit sehingga tidak diketahui pasien. Penyebab yang sering antara lain ulkus peptikum, menometroragi, peredaran saluran cerna karena pemakaian analgetik dan epistaksis.
Penatalaksanaan :
 Mengobati sebab perdarahan.
 Pemberian preparat Fe
4. Anemia Hemolitik
Pada anemia hemolitik terjadi penurunan usia sel darah merah (normal 120 hari), baik sementara atau terus-menerus. Anemia terjadi hanya bila sumsum tulang telah tidak mampu mengatasi karena usia sel darah merah sangat pendek, atau bila kemampuannya terganggu oleh sebab lain.
Etiologi
Etiologi anemia hemolitik dibagi sebagai berikut:
a. Intrinsik
a. Kelainan membran, seperti sferositosis herediter, hemoglobinuria noktural paroksimal.
b. Kelainan glikolisis, seperti defisiensi piruvat kinase.
c. Kelainan enzim, seperti defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD).
d. Hemoglobinopati, seperti anemia sel sabit, methemoglobinemia.
b. ekstrinsik
a. Gangguan system imun, seperti pada penyakit autoimun, penyakit limfoproliferatif, keracunan obat.
b. Mikroangiopati, seperti pada purpura trombotik trombositopenik, koagulasi intravaskuler diseminata (KID).
c. Infeksi, seperti akibat plasmodium, klostridium, borrelia.
d. Hipersplenisme.
e. Luka bakar.
Manifestasi Klinis
Tanda-tanda hemolisis antara lain ikterus dan splenomegali.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan anemia hemolitik disesuaikan dengan penyebabanya. Bila karena reaksi tosik-imunologik yang didapat diberikan adalah kortikosteroid (prednisone, prednisolon), kalau perlu dilakukan splenoktomi. Apabila keduanya tidak berhasil, dapat diberikan obat-obat sitostatik, seperti klorambusil dan siklofosfamid.
5. Anemia Aplastik
Terjadi karena ketidak sanggupan sumsum tulang untuk membentuk sel-sel darah.
Etiologi
Penyebabnya bisa congenital (jarang), idiopatik (kemungkinan autoimun), LES, kemoterapi, radioterapi, toksin, seperti benzen, toluen, insektisid, obat-obat seperti kloramfenikol, sulfonamide, analgesik (pirazolon), antiepileptic (hidantoin), kinakrin, dan sulfonylurea, pascahepatitis, kehamilan, dan hemoglobinuria paroksimal noktural.
Manifestasi Klinis
Pasien tampak pucat, lemah, mungkin timbul demam, purpura, dan perdarahan.
Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi adalah pengobatan yang disesuaikan dengan etiologi dan anemianya.
Berbagai teknik pengobatan dapat dilakukan, seperti:
 Tranfusi darah, sebaiknya diberikan packed red sel. Bila diperlukan trombosit, berikan darah segar atau platelet concentrate.
 Atasi komplikasi (infeksi) dengan anti biotic. Hygiene yng baik perlu untuk mencegah timbulnya infeksi.
 Kortikosteroid, dosis rendah mungkin bermanfaat pada perdarahan akibat trombositopenia berat.
 Androgen, seperti fluokrimesteron, testosterone, metandrostenolon, dan nondrolon, efek samping yang mungkin terjadi virilisasi, retensi air dan garam, perubahan hati, dan amenore.
 Imunosupresif, seperti siklosporin, globulin antitimosit. Camplin, dkk menyarankan penggunaannya pada pasien > 40 tahun yang tidak dapat menjalani transplantasi sumsum tulang dan pada pasien yang telah mendapat tranfusi berulang.
 Transplantasi sumsum tulang.
C. Etiologi
Anemia dapat terjadi bila tubuh kita tidak membuat sel darah merah secukupnya. Anemia juga disebabkan kehilangan atau kerusakan pada sel tersebut.
Ada beberapa factor yang dapat menyebabkan anemia :
1. Kekurangan zat besi, vitamin B12 atau asam folat. Kekurangan asam folat dapat menyebabkan jenis anemia yang disebut anemia megaloblastik.
2. Kerusakan pada sumsum tulang atau ginjal.
3. Kehilangan darah akibat pendarahan dalam atau siklus haid perempuan.
4. Penghancuran sel darah merah (anemia hemolitik).
5. Mal absorbsi pada enteritis pada proses mal nutrisi.
D. Manifesrtasi klinis
Selain beratnya anemia, berbagai factor mempengaruhi berat dan adanya gejala :
1. Kecepatan kejadian anemia.
2. Durasinya (kronisitas)
3. Kebutuhan metabolisme pasien bersangkutan.
4. Adanya kelainan lain atau kecacatan.
5. Komplikasi tertentu atau keadaan penyerta kondisi yang mengakibatkan anemia.
Semakin cepat perkembangan anemia, semakin berat gejalanya,. Pada orang yang normal penurunan hemoglobin, hitung darah merah, atau hematokrit tanpa gejala yang tampak atu ketidak mampuan yang jelas secara bertahap biasanya dapat ditoleransi sampai 50%, sedangkan kehilangan cepat sebanyak 30% dapat menyebabkan kolaps vaskuler pada individu yang sama .
Manifestasi klinis orang yang mengalami anemia antara lain :
1. Tidak ada gejala sama sekali.
2. Takikardi saat latihan.
3. Dispnu saat latihan.
4. Kelemahan.
5. Dispnu istirahat.
6. Cepat lelah.
7. Palpitasi.
Pasien yang biasanya aktif lebih berat mengalami gejala, dibanding orang yang tenang. Pasien dengan hipotiroidisme dengan kebutuhan oksigen yang rendah bisa tidak bergejala sama sekali, tanpa takikardi atau peningkatan curah jantung, pada kadar hemoglobin dibawah 10 g/dl.
Akhirnya berbagai kelainan anemia akan berkomplikasi dengan berbagai abnormalitas lain yang bukan yang bukan diakibatkan oleh anemia tetapi menyertai penyakit ini. Abnormalitas tersebut dapat menimbulkan gejala yang secara sempurna menutupi gejala anemia, seperti pada anema selsabit yang mengalami krisis nyeri.
E. Komplikasi
Komplikasi umum anemia meliputi gagal jantung, parestesia dan kejang. Pada setiap tingkat anemia pasien dengan penyakit jantung cenderung lebih besar kemungkinannya mengalami angina atau gejala gagal jantung kongesif dari pada seseorang yang tiak mempunyai penyakit jantung.
F. Penatalaksanaan medis
Penatalaksanaan anemia ditujukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah yang hilang.

Kamis, 11 September 2008

KUSTA

Abstract

Leprosy is the disease of chronic infection which cause of Mycobacterium Leprae which is obligat intraseluler, first attack edge nerve, here in after can attack skin, mouth mucosa, upper of Tractus Respiratorius, retikulo endotelial system, eye, muscle, bone and testis.

Sure sign of leprosy ( Cardinal Signs of leprosy) is: a) skin with red or white pock insensiblely, b) thick at edge nerve accompanied by the disparity of function in the form of insensible and weakness at muscle of hand, foot, and eye, c) BTA positive at skin swab. Client told to suffer leprosy if we found one or more the Cardinal Signs of Leprosy at clinis inspection to them .

In all the world, 80% cases found in five state, that is India, Myanmar, Indonesia, Brazil, and Nigeria. Wound care and prevention of incidence of hurt is vital importance to prevent the defect and anatomical disparity for leper.

Keyword : Leprosy, wound care, defect, elimination.

Abstrak

Kusta adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium Leprae yang intraseluler obligat, yang pertama menyerang saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut, saluran napas bagian atas, sistem retikulo endotelial, mata, otot, tulang dan testis..

Tanda pasti kusta (Cardinal Signs Kusta) adalah: a) kulit dengan bercak putih atau kemerahan dengan mati rasa, b) penebalan pada saraf tepi disertai kelainan fungsinya berupa mati rasa dan kelemahan pada otot tangan , kaki, dan mata, c) pada pemeriksaan kerokan kulit BTA positif. Klien dikatakan menderita kusta apabila ditemukan satu atau lebih dari Cardinal Signs Kusta, pada waktu pemeriksaan klinis.

Di seluruh dunia, 80% kasus ditemukan di lima negara, yaitu India, Myanmar, Indonesia, Brazil, dan Nigeria. Perawatan luka dan pencegahan timbulnya luka sangat penting untuk mencegah terjadinya kecacatan atau kelainan anatomis bagi penderita kusta.

Kata Kunci : Kusta, perawatan luka, cacat, eliminasi


Pendahuluan

Morbus Hansen atau lepra atau kusta merupakan penyakit tertua sekaligus penyakit menular yang sangat menakutkan. Penyakit ini ditemukan oleh GH Armauer Hansen ( Norwegia ) pada tahun 1873, dengan menemukan Mycobacterium leprae sebagai kuman penyebab. Sampai datangnya AIDS, leprae adalah penyakit yang paling menakutkan daripada penyakit menular lainnya. Penyakit ini menyesatkan hidup berjuta-juta orang, terutama di Amerika

Selatan, Afrika, dan Asia. Penyakit ini di Indonesia lebih dikenal dengan penyakit Kusta. Menurut Sub Direktorat Kusta dan Frambusia Direktorat P2M Ditjen PPM& PL (2000), penyakit kusta merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup besar di Indonesia, dimana masih terdapat 10 propinsi yang angka prevalensinya lebih dari 1/10.000 penduduk. Prevalensi berkisar 0,14 (Bengkulu) sampai dengan 7,42 (Maluku) .

Menurut Djuanda, A. (1997), Kusta adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium Leprae, yang pertama menyerang saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut, saluran napas bagian atas, sistem retikulo endotelial, mata, otot, tulang dan testis. Kusta adalah penyakit infeksi yang kronik, penyebabnya ialah Mycobacterium leprae yang intraseluler obligat , demikian menurut Kosasih. A (1993) dalam Djuanda (1993).

Kusta bukan penyakit keturunan, tetapi merupakan penyakit menular. Penyakit menular ini pada umumnya mempengaruhi kulit dan saraf perifer, tetapi mempunyai cakupan manifestasi klinis yang luas ( CDC. 2003)

Penularan kusta terjadi lewat droplet, dari hidung dan mulut, kontak yang lama dan sering pada klien yang tidak diobati. Manusia adalah satu-satunya yang diketahui merupakan sumber Mycobacterium leprae. Kusta menular dari penderita yang tidak diobati ke orang lainnya melalui pernapasan dan kontak kulit. (Ditjend PPM & PL.2002)

Klasifikasi

Klasifikasi menurut WHO (1981) dan modifikasi WHO (1988) dalam Djuanda.A (1997), adalah pausibasiler (PB) dan multibasiler (MB). Pausibasiler (PB) termasuk kusta tipe TT (tuberkuloid-tuberkuloid) dan BT ( borderline tuberkuloid) menurut kriteria Ridley dan Jopling atau tipe I (indeterminate) dan T (tuberkuloid) menurut klasifikasi Madrid dengan BTA negatif. Multibasiler (MB), termasuk kusta tipe BB (borderline-borderline), BL borderline lepromatous), dan LL ( lepromatosa-lepromatosa) menurut kriteria Ridley dan Jopling atau B (borderlien) dan L (lepromatousa) menurut Madrid dan semua tipe kusta dengan BTA positif. (Djuanda. A. 1997)

Klasifikasi Ridley – Jopling terdiri dari Tuberkuloid- tuberkuloid (TT), borderline tuberkuloid (BT), borderline borderline (BB), dan lepromatosa-lepromatosa (LL). Klasifikasi Ridley-Jopling biasanya digunakan untuk penelitian. Sedangkan klasifikasi Internasional terdiri dari Indeterminate (I), Tuberkuloid (T), Borderline (B), dan Lepromatosa (L).

Kelompok Resiko

Kelompok yang berisiko tertular penyakit kusta adalah kontak yang lama dengan penderita kusta yang tidak diobati, penderita yang masih aktif, dan orang-orang yang tinggal di daerah endemis kusta ( CDC. 2004).

Insiden

Pada tahun 2002, banyaknya kasus baru dideteksi diseluruh dunia adalah 763.917 penderita. WHO mencatatkan 90% kasus tersebut terdapat di Brazil, Madagaskar, Mozambie, Tanzania, dan Nepal. Pada tahun tersebut 96 kasus di Amerika Serikat dilaporkan ke CDC (CDC.2003)

Frekuensi

Menurut Barrett. TL. (2002), kira-kira 6.000 penderita kusta hidup di Amerika Serikat, 95% dari penderita tersebut memperoleh penyakitnya di negara berkembang. Kasus yang terjadi di Amerika Serikat 200-300 kasus per tahun. Proporsi terbesar terdapat di negara dengan populasi imigran terbesar ( California, New York, Florida) dari kasus baru, sedangkan daerah endemis kecil ada di Texas, Louisiana, dan Hawaii.

Secara internasional prevalensi kusta di dunia 5,5 juta kasus, mayoritas terdapat di daerah tropik dan subtropik. Di seluruh dunia 80% kasus ditemukan di lima negara, yaitu India, Myanmar, Indonesia, Brazil, dan Nigeria. ( Barrett. TL. 2002)

Tanda Pasti Kusta (Cardinal Signs Kusta)

Tanda pasti kusta adalah: a) kulit dengan bercak putih atau kemerahan dengan mati rasa, b) penebalan pada saraf tepi disertai kelainan fungsinya berupa mati rasa dan kelemahan pada otot tangan , kaki, dan mata, c) pada pemeriksaan kerokan kulit BTA positif. Klien dikatakan menderita kusta apabila ditemukan satu atau lebih dari Cardinal Signs Kusta, pada waktu pemeriksaan klinis. (Ditjend PPM & PL, 2002)

Derajat Cacat Kusta

WHO (1995) dalam Djuanda.A (1997) membagi cacat kusta menjadi tiga tingkat kecacatan. Karena mata, tangan, dan kaki merupakan organ yang paling berfungsi, maka tingkat kecacatan tersebut didasarkan pada organ tersebut, yaitu :

Cacat pada tangan dan kaki

Tingkat 0 : tidak ada anestesi dan kelainan anatomis

Tingkat 1 : ada anestesi, tetapi tidak ada kelainan anatomis

Tingkat 2 : terdapat kelainan anatomis

Cacat pada mata

Tingkat 0 : tidak ada kelainan pada mata ( termasuk visus)

Tingkat 1 : ada kelainan mata, tetapi tidak terlihat, visus sedikit berkurang

Tingkat 2: ada lagoptalmus dan visus sangat terganggu ( visus 6/60 ; dapat menghitung jari pada jarak 6 meter)

Pencegahan Cacat

Di seluruh dunia kira-kira 1-2 juta orang yang mengalami cacat tetap akibat kusta (CDC. 2003). Menurut Djuanda. A (1997) jenis dari cacat kusta dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu :

1. Cacat Primer

Adalah kelompok cacat yang disebabkan langsung oleh aktivitas penyakit, terutama kerusakan akibat respon jaringan terhadap M. leprae, yang termasuk kedalam cacat primer adalah :

a. Cacat pada fungsi saraf ; 1) fungsi saraf sensorik, misalnya anestesi, 2) fungsi saraf motorik, misalnya claw hand, wrist drop, foot drop, claw toes, lagoptalmus, 3) fungsi saraf otonom dapat menyebabkan kulit menjadi kering dan elastisitas kulit berkurang, serta gangguan refleks vasodilatasi

b. Infiltrasi kuman pada kulit dan jaringan subkutan menyebabkan kulit berkerut dan berlipat-lipat, misalnya fasies leonina, blefaroptosis, ektropion. Kerusakan folikel rambut menyebabkan alopesia atau madorosis, kerusakan glandula sebasea dan sudorifera menyebabkab kulit kering dan tidak elastis.

c. Cacat pada jaringan lain akibat infiltrasi kuman kusta dapat terjadi pada tendo, ligamen, sendi, tulang rawan, tulang, testis, dan bola mata.

2. Cacat Sekunder

Cacat ini terjadi akibat cacat primer, terutama adanya kerusakan saraf sensorik, motorik, dan otonom. Anestesi akan memudahkan terjadinya luka akibat trauma mekanis / termis dan mengalami infeksi sekunder. Kelumpuhan mototrik menyebabkan kontraktur, sehingga terjadi gangguan berjalan dan memudahkan terjadinya luka. Lagoptalmus menyebabkan kornea menjadi kering dan memudahkan terjadinya keratitis. Kelumpuhan saraf otonom menjadikan kulit kering dan berkurangnya elastisitas, akibatnya kulit mudah retak dan terjadi infeksi sekunder.

Perawatan Luka

Jenis luka pada penderita kusta adalah luka lepromatosa,luka stasis, luka plantar, luka lain, luka keganasan. Prinsip daripada pengobatan/perawatannya adalah imobilisasi dengan mengistirahatkan kaki yang luka (misal. tongkat, bidai), merawat luka setiap hari dengan membersihkan,membuang jaringan mati, dan menipiskan penebalan kulityang selanjutnya dikompres.

Perawatan Mata yang Tidak Tertutup Rapat (Lagoptalmus)

Perhatian, lindungilah mata tidak tertutup rapat (lagoptalmus) dari angin dan debu, serta sinar matahari untuk mencegah mata kemerahan dan buta.Pemeriksaan, gunakanlah cermin setiap hari untuk melihat apakah ada mata yang merah, bila ada laporkan ke petugas Puskesmas.Latihan, tariklah kulit di sudut mata ke arah luar dengan jari tangan sebanyak 10 kali setiap latihan, lakukan tiga kali sehari. Perlindungan, a) Lindungilah mata dari sinar matahri dengan menggunkan topi yang lebar, b) Pakailah kaca mata gelap untuk melindungi mata dari sinar matahri, angin, dan debu, c) Waktu tidur, tuutp mata dengan kain bersih supaya debu tidak masuk. (Dirjend PPM & PL.2002)

Perawatan Tangan yang Mati Rasa (Anestesi)

Perhatian, lindungilah tangan yang mati rasa (anestesi) dari benda panas, benda kasar, dan benda tajam untuk mencegah luka. Periksa, periksalah telapak tangan setiap hari. Bila ada kemerahan, melepuh atau luka ; istirahatkan, rawatlah luka. Rendam, rendamlah tangan setiap hari dengan air bersih dalam baskom, selama 30 menit untuk menjadikan kulit lembut. Gosok, setelah direndam gosok kulit menebal dengan batu apung untuk menjadikan kulit lembut. Olesi, olesi dengan minyak kelapa bersih dalama keadaan basah. Mencegah luka, a) Bungkuslah tangkai panci yang panas dengan kain yang tebal untuk mencegah terjadinya luka, b) Bungkus tangkai cangkul dengan kain yang tebal untuk mencegah terjadinya luka, c) Gunakan pipa sewaktu merokok, untuk mencegah luka. (Dirjend PPM & PL.2002)

Perawatan Tangan yang Bengkok (Kontraktur)

Perhatian, latih jari-jari tangan yang bengkok tiga kali sehari, supaya jari-jari tangan tidak menjadi kaku. Rendam, rendamlah tangan tiga kali sehari dengan air bersih selama 30 menit. Olesi, olesi tangan yang bengkok dengan minyak kelapa bersih dalam keadaan basah. Luruskan, a) Luruskan jari-jari tangan yang bengkok dengan tangan yang lain sebanyak 20 kali tiap latihan, lakukan tiga kali sehari, b) Taruh tangan diatas paha dan luruskan jari-jari tangan sebanyak 20 kali tiap latihan, lakukan tiga kali sehari. (Dirjend PPM & PL.2002)

Perawatan Tangan dengan Luka

Perhatian, a) Kurangi tekanan pada tangan yang luka, b) Luka harus selalu bersih, c) Bila luka bau, panas dan bengkak segera ke Puskesmas. Rendam, tiap hari rendamlah tangan dengan iar bersih selama 30 menit. Balut, balut luka dengan kain bersih. Istirahat, istirahatkan tangan yang ada luka, jangan gunakan unutk bekerja. (Ditjend PPM & PL.2002)

Perawatan Jari Kaki yang Bengkok dan Lunglai

Perhatian, luruskan jari kai bengkok dan latihlah telapak kaki lunglai supaya, a) Jari-jari dan sendi kaki tidak menjadi kaku, b) Mempermudah operasi untuk meluruskan jari dan sendi kaki, kalau diperlukan nanti. Olesi, olesi telapak kai dengan minyak kelapa yang belum dipakai, supaya tidak mudah luka waktu latihan. Luruskan, jari-jari kai yang bengkok, selama empat detik, tiga kali sehari, dan sebanyak 20 kali tiap latihan. Latihan, telapak kai yang lunglai dengan melingkari handuk atau sarung, dan tariklah selama empat detik, tiga kali sehari, ulangi 20 kali setiap latihan. Tekan, tekanlah telapak kaki lantai / dasar yang cukup keras selama 10 menit setiap kali latihan, dan lakukan tiga kali sehari. (Ditjend PPM & PL.2002)

Pencegahan Luka

Penting dilakukan dan diajarkan pada penderita, agar dapat selalu menjaga kakinya supaya tidak timbul luka atau luka yang telah sembuh tidak timbul lagi. Saran yang dapat diberikan untuk mencegah luka tersebut diantaranya : selalu memakai alas kaki, jangan berjalan terlalu lama, berhati-hati terhadap api, air /benda panas lainnya, berhati-hati saat duduk bersila, memeriksa keadaan kaki dan kulit apakah anda tanda-tanda kemerahan, melepuh.

Penyuluhan Kesehatan

Beberapa hal yang perlu dijelaskan pada penderita, keluarga dan masyarakat menurut Ditjen PPM & PL (2000) adalah jelaskan tentang penyakit kusta, pentingnya berobat secara teratur, pentingnya bagi anggota keluarga untuk mengawasi penderita minum obat secarat teratur dan lengkap. Tidak kalah penting penyuluhan kepada masyarakat agar tidak takut kepada penyakit kusta (leprofobia) dan dapat membantu membawa suspek kasus kusta ke Puskesmas.

Pendidikan kepada klien menurut Barret, TL. (2002), yang pertama adalah kebutuhan akan penjelasan tentang diagnosis dan prognosis. Penjelasan tentang cacat yang diakibatkan oleh kusta. Klien membutuhkan konseling psikologis karena klien sulit menerima keadaannya atau perasaan ditolak oleh masyarakat. Klien membutuhkan pendidikan tentang bagaimana cara menghadapi anestesi pada tangan dan kaki. Penderita harus tahu cara memeriksa ekstrimitas utnuk mengetahui adanya trauma dan harus pakai alas kaki. Pentingnya memeriksa tungkai / lengan dan mata dari adanya anestesi atau kelemahan. Pengobatan dan okupasi terapi penting dalam rangka rehabilitasi. Klien harus tahu adannya reaksi kusta dan mencari pertolongan medis segera. Deformitas dapat dicegah melalui pendidikan kepada klien untuk mengenali adanya kerusakan saraf dan akibat dari kerusakan saraf tersebut.

Eliminasi Kusta

Sejak tahun 1985 penyakit kusta dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat. Lebih dari 12 juta penderita kusta selama 20 tahun lebih, penderita kusta telah diobati dengan MDT. Multidrug therapy telah mampu menekan penyakit kusta secara dramatis. dan prevalensinya menurun hingga 90%. Dan pada tahun 1991 World Health Assembly telah mengeluarkan suatu resolusi yaitu eliminasi kusta tahun 2000 (Dinkes.Prop.Sumsel.2003)

Hingga kini sudah 108 negara yang bebas kusta dari 122 negara, dimana kusta dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat. Sementara 14 negara sisanya terdapat di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Tujuh puluh persen penderita kusta dunia pada tahun 2002 terdapat di India.

Pada awal tahun 2004 banyaknya penderita kusta dibawah pengobatan dunia ada sekitar 460.000 penderita. Sekitar 515.000 kasus baru ditemukan selama tahun 2003, diantaranya 43% kasus multibasiler, 12% pada anak-anak, dan 3% yang mengalami cacat berat. Dua tahun belakangan secara global kasus baru yang dideteksi terus menurun secara dramatis, penurunan tersebut kira-kira 20% per tahun.

Menurut Leisinger.KM. (2005), dalam tulisannya Leprosy in the year 2005 Impressive success with the treatment of a biblical disease menyebutkan bahwa, sejak tahun 2000, lebih dari 3 juta orang telah diobati dari lepra. Sejak tahun 1985 prevalensi lepra menurun 90%, dari 21.1 per 10,000 penduduk hingga kurang dari 0.8 per 10,000 penduduk pada tahun 2004. Lepra adalah suatu masalah kesehatan masyarakat yang utama di 9 negara dari 122 negara-negara pada tahun 1985

Upaya yang sedang intensif dilakukan untuk eliminasi kusta di enam negara, yakni Brazil, India, Madagaskar, Mozambie, Myanmar, dan Nepal. Negara-negara tersebut merupakan 90% dari prevalensi kusta di dunia pada tahun 2002.

Dengan kemajuan teknologi di bidang promotif, pencegahan, pengobatan serta pemulihan kesehatan di bidang kusta, maka penyakit kusta sudah dapat diatasi dan seharusnya tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Tetapi karena masih banyaknya masyarakat yang belum mengetahui / mengerti mengenai penyakit kusta ini, terutama mengenai tanda dini dan akibat penyakit yang ditimbulkannya, penderita tidak cepat pergi berobat sehingga jadi cacat dan penularan tetap berlangsung. Hal ini merupakan hambatan bagi program eliminasi kusta. ( Ditjen PPM & PL. 2000).

Daftar Pustaka

1. Barrett. TL., Wells. MJ., Libow.L., Quirk.C., and Elston DM. (2002). Leprosy, retrieved January 14, 2005 from http://emedicine.com/derm/byname/leprosy.

htm. Last update: April 10, 2002

2. CDC. (2003). Hansens's Disease (Leprosy), retrieved December 2003 from http://cdc.gov/ncidod/dbmd/diseaseinfo/hansen-a.htm.htm. Last update: February 11, 2004

3. Ditjen PPM & PL. (2000). Buku Pedoman Program P2 Kusta Bagi Petugas Puskesmas. Jakarta : Sub Direktorat Kusta & Frambusia.

4. Dinkes Prop.Sumsel. (2003). Modul pemberantasan penyakit kusta. Palembang : tidak diterbitkan.

5. Djuanda.A., Menaldi. SL., Wisesa.TW., dan Ashadi. LN. (1997). Kusta : diagnosis dan Penatalaksanaan. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

6. Djuanda. A.,Djuanda. S., Hamzah. M., dan Aisah.A. (1993). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Balai Penrbit FKUI

7. Leisinger, KM. (2005). Leprosy in the year 2005: Impressive success with the treatment of a biblical disease

http://novartisfoundatin.com/en/about/organization/board/klaus-leisinger.htm

8. WHO. (2002). Elimination of Leprosy as a Public Health Problem. retrieved January 14, 2005 from http://who.int.com/lep/stat2002/global02.htmLlast update: January 10, 2005

KANKER HATI

KONSEP DASAR
1. PENGERTIAN
a. Tumor ganas primer pada hati yang berasal dari sel parenkim atau epitel saluran empedu atau metastase dari tumor jaringan lainnya.
b. Sinonim dari hepatoma adalah carcinoma hepatoselluler.
c. Merupakan tomur ganas nomor 2 diseluruh dunia , diasia pasifik terutama Taiwan ,hepatoma menduduki tempat tertinggi dari tomur-tomur ganas lainnya.laki :wanita 4-6: 1.
d. Umur tergantung dari lokasi geografis. Terbanyak mengenai usia 50 tahun. Di Indonesia banyak dijumpai pada usia kurang dari 40 tahun bahkan dapat mengenai anak-anak.

2. PATOFISIOLOGI
a. Hepatoma 75 % berasal dari sirosis hati yang lama / menahun. Khususnya yang disebabkan oleh alkoholik dan postnekrotik.
b. Pedoman diagnostik yang paling penting adalah terjadinya kerusakan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Pada penderita sirosis hati yang disertai pembesaran hati mendadak.
c. Tumor hati yang paling sering adalah metastase tumor ganas dari tempat lain. Matastase ke hati dapat terdeteksi pada lebih dari 50 % kematian akibat kanker. Hal ini benar, khususnya untuk keganasan pada saluran pencernaan, tetapi banyak tumor lain juga memperlihatkan kecenderungan untuk bermestatase ke hati, misalnya kanker payudara, paru-paru, uterus, dan pankreas.
d. Diagnosa sulit ditentukan, sebab tumor biasanya tidak diketahui sampai penyebaran tumor yang luas, sehingga tidak dapat dilakukan reseksi lokal lagi.


3. PATOLOGI
a. Ada 3 type :
1. Type masif - tumor tunggal di lobus kanan.
2. Type Nodule - tumor multiple kecil-kecil dalam ukuran yang tidak sama.
3. Type difus - secara makroskpis sukar ditentukan daerah massa tumor.
b. Penyebarannya :
1. Intrahepatal.
2. Ekstrahepatal.

4. ETIOLOGI
a. Virus Hepatitis B dan Virus Hepatitis C
b. Bahan-bahan Hepatokarsinogenik :
 Aflatoksin
 Alkohol
 Penggunaan steroid anabolic
 Penggunaan androgen yang berlebihan
 Bahan kontrasepsi oral
 Penimbunan zat besi yang berlebihan dalam hati (Hemochromatosis)

5. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Laboratorium:
 Darah lengkap ; SGOT,SGPT,LDH,CPK, Alfa fetoprotein  500 mg/dl, HbsAg positf dalam serum, Kalium, Kalsium.
2. Radiologi :
 Ultrasonografi (USG), CT-Scan, Thorak foto, Arteriography.
3. Biopsi jaringan liver.




6. PENGOBATAN
Pengobatan tergantung dari saat diagnosa ditegakkan.
1. Fase dini
Dimana pembedahan adalah pilihan utama yaitu reseksi segmen atau lobus hati
2. Pemberian kemoterapi secara infus
3. Penyinaran .

7. PROGNOSA
Tumor ganas liver memiliki prognosa yang jelek dapat terjadi perdarahan dan akhirnya kematian. Dan proses ini berlangsung antara 5-6 bulan atau beberapa tahun


ASUHAN KEPERAWATAN
B. KONSEP DASAR
1. PENGKAJIAN
 GEJALA KLINIK
Fase dini : Asimtomatik.
Fase lanjut :Tidak dikenal simtom yang patognomonik.
Keluhan berupa nyeri abdomen, kelemahan dan penurunan berat badan, anoreksia, rasa penuh setelah makan terkadang disertai muntah dan mual. Bila ada metastasis ke tulang penderita mengeluh nyeri tulang.
Pada pemeriksaan fisik bisa didapatkan
1. Ascites
2. Ikterus
3. Hipoalbuminemia
4. Splenomegali, Spider nevi, Eritoma palmaris, Edema.
Secara umum pengkajian Keperawatan pada klien dengan kasus kanker hati, meliputi :
1. Gangguan metabolisme
2. Perdarahan
3. Asites
4. Edema
5. Hipoproteinemia
6. Jaundice/icterus
7. Komplikasi endokrin
8. Aktivitas terganggu akibat pengobatan

II.DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.tidak seimbangan nutrisi berhubungan dengan anoreksia, mual, gangguan absorbsi, metabolisme vitamin di hati.

TUJUAN :

1. Mendemontrasikan BB stabil, penembahan BB progresif kearah tujuan dgn normalisasi nilai laboratorium dan batas tanda-tanda malnutrisi
2. Penanggulangan pemahaman pengaruh individual pd masukan adekuat .

INTERVENSI :
1. Pantau masukan makanan setiap hari, beri pasein buku harian tentang makanan sesuai indikasi
2. Dorong pasien utk makan deit tinggi kalori kaya protein dg masukan cairan adekuat. Dorong penggunaan suplemen dan makanan sering / lebih sedikit yg dibagi bagi selama sehari.
3. Berikan antiemetik pada jadwal reguler sebelum / selama dan setelah pemberian agent antineoplastik yang sesuai .

RASIONAL :
1. Keefektifan penilaian diet individual dalam penghilangan mual pascaterapi. Pasien harus mencoba untuk menemukan solusi/kombinasi terbaik.
2. Kebutuhan jaringan metabolek ditingkatkan begitu juga cairan ( untuk menghilangkan produksi sisa ). Suplemen dapat memainkan peranan penting dlm mempertahankan masukan kalori dan protein adekuat.
3. Mual/muntah paling menurunkan kemampuan dan efek samping psikologis kemoterapi yang menimbulkan stess.

B. Nyeri berhubungan dengan tegangnya dinding perut ( asites )

TUJUAN :
1. Mendemontrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan sesuai indikasi nyeri.
2. Melaporkan penghilangan nyeri maksimal / kontrol dengan pengaruh minimal pada AKS

INTERVENSI :
1. Tentukan riwayat nyeri misalnya lokasi , frekwensi, durasi dan intensitas ( 0-10 ) dan tindakan penghilang rasa nyeri misalkan berikan posisi yang duduk tengkurap dengan dialas bantal pada daerah antara perut dan dada.
2. Berikan tindakan kenyamanan dasar misalnya reposisi, gosok punggung.
3. kaji tingkat nyeri / kontrol nilai

RASIOANAL :
1. memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan / keefektifan intervensi misalnya : nyeri adalahindividual yang digabungkan baik respons fisik dan emesional
2. meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan kembali perhatian
3. kontrol nyeri maksimum dengan pengaruh minimum pada AKS.


A. Intoleransi aktivitas b.d ketidak seimbangan antara suplai O2 dengan kebutuhan

TUJUAN :
1. dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan tubuh.

INTERVENSI :
1. dorong pasein untuk melakukan apa saja bila mungkin, misalnya mandi, bangun dari kursi/ tempat tidur, berjalan. Tingkatkan aktivitas sesuai kemampuan.
2. pantau respon fisiologi terhadap aktivitas misalnya; perubahan pada TD/ frekuensi jantung / pernapasan.
3. beri oksigen sesuai indikasi

RASIONAL :
1. meningkatkan kekuatan / stamina dan memampukan pasein menjadi lebih aktif tanpa kelelahan yang berarti.
2. teloransi sangat tergantung pada tahap proses penyakit, status nutrisi, keseimbnagan cairan dan reaksi terhadap aturan terapeutik.
3. adanya hifoksia menurunkan kesediaan O2 untuk ambilan seluler dan memperberat keletihan.

D. Resiko terjadinya gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritus,edema dan asites

TUJUAN :
1. Mengedentifikasi fiksi intervensi yang tepat untuk kondisi kusus.
2. Berpartisipasi dalam tehnik untuk mencegah komplikasi / meningkatkan penyembuhan

INTERVENSI :
1. Kaji kulit terhadap efek samping terapi kanker. Perhatikan kerusakan atau perlambatan penyembuhan .
2. Mandikan dengan air hangat dan sabun
3. Dorong pasien untuk menghindari menggaruk dan menepuk kulit yang kering dari pada menggaruk.
4. Balikkan / ubah posisi dengan sering
5. Anjurkan pasein untuk menghindari krim kulit apapun ,salep dan bedak kecuali seijin dokter

RASIONAL :
1. Efek kemerahan atau reaksi radiasi dapat terjadi dalam area radiasi dapat terjadi dalam area radiasi. Deskuamasi kering dan deskuamasi kering,ulserasi.
2. Mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi kulit.
3. Membantu mencegah friksi atau trauma fisik.
4. Untuk meningkatkan sirkulasi dan mencegah tekanan pada kulit/ jaringan yang tidak perlu.
5. Dapat meningkatkan iritasi atau reaksi secara nyata.

ISPA

ISPA sering disalah artikan sebagai infeksi saluran pernapasan atas. Yang benar ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. ISPA meliputi saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah
ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung sampai gelembung paru, beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru.
Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak akan menderita pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibat kematian.
Program Pemberantasan Penyakit (P2) ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu pneumonia dan yang bukan pneumonia. Pneumonia dibagi atas derajat beratnya penyakit yaitu pneumonia berat dan pneumonia tidak berat. Penyakit batuk pilek seperti rinitis, faringitis, tonsilitis dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan pneumonia. Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan pada balita. Bila ditemukan harus diobati dengan antibiotik penisilin, semua radang telinga akut harus mendapat antibiotic.
ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya.
Kelainan pada sistem pernapasan terutama infeksi saluran pernapasan bagian atas dan bawah, asma dan ibro kistik, menempati bagian yang cukup besar pada lapangan pediatri. Infeksi saluran pernapasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada semua golongan masyarakat pada bulan-bulan musim dingin.

2. JENIS – JENIS ISPA

Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut:

• Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam (chest indrawing).

• Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.

• Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia

Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat dibuat suatu klasifikasi penyakit ISPA. Klasifikasi ini dibedakan untuk golongan umur dibawah 2 bulan dan untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun.
Untuk golongan umur kurang 2 bulan ada 2 klasifikasi penyakit yaitu :

• Pneumonia berada: diisolasi dari cacing tanah oleh Ruiz dan kuat dinding pada bagian bawah atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur kurang 2 bulan yaitu 60 kali per menit atau lebih.

• Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau napas cepat.

Untuk golongan umur 2 bu~an sampai 5 tahun ada 3 klasifikasi penyakit yaitu :

• Pneumonia berat: bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan dinding dada bagian bawah kedalam pada waktu anak menarik napas (pada saat diperiksa anak harus dalam keadaan tenang tldak menangis atau meronta).

• Pneumonia: bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah untuk usia 2 -12 bulan adalah 50 kali per menit atau lebih dan untuk usia 1 -4 tahun adalah 40 kali per menit atau lebih.

• Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat.

3. TANDA – TANDA BAHAYA

Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang ringan. Dalam perjalanan penyakit mungkin gejala-gejala menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh dalam keadaan kegagalan pernapasan dan mungkin meninggal. Bila sudah dalam kegagalan pernapasan maka dibutuhkan penatalaksanaan yang lebih rumit, meskipun demikian mortalitas masih tinggi, maka perlu diusahakan agar yang ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah berat cepat-cepat ditolong dengan tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan pernapasan.
Tanda-tanda bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis dan tanda-tanda laboratoris.

Tanda-tanda klinis

• Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea, napas tak teratur (apnea), retraksi dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas lemah atau hilang, grunting expiratoir dan wheezing.

• Pada sistem cardial adalah: tachycardia, bradycardiam, hypertensi, hypotensi dan cardiac arrest.

• Pada sistem cerebral adalah : gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung, papil bendung, kejang dan coma.

• Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak.

Tanda-tanda laboratoris

• hypoxemia,

• hypercapnia dan

• acydosis (metabolik dan atau respiratorik)

Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun adalah: tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor dan gizi buruk, sedangkan tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan adalah: kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun ampai kurang dari setengah volume yang biasa diminumnya), kejang, kesadaran menurun, stridor, Wheezing


4. PENATALAKSANAAN KASUS ISPA

Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan kasus yang benar merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan program (turunnya kematian karena pneumonia dan turunnya penggunaan antibiotik dan obat batuk yang kurang tepat pada pengobatan penyakit ISPA) .
Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan antibiotik untuk kasus-kasus batuk pilek biasa, serta mengurangi penggunaan obat batuk yang kurang bermanfaat. Strategi penatalaksanaan kasus mencakup pula petunjuk tentang pemberian makanan dan minuman sebagai bagian dari tindakan penunjang yang penting bagi pederita ISPA.

Penatalaksanaan ISPA meliputi langkah atau tindakan sebagai berikut :

 Upaya pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan dengan :

• Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
• Immunisasi.
• Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan.
• Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.

 Pengobatan dan perawatan

Prinsip perawatan ISPA antara lain :
• Menigkatkan istirahat minimal 8 jam perhari
• Meningkatkan makanan bergizi
• Bila demam beri kompres dan banyak minum
• Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan sapu tangan yang bersih
• Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak terlalu ketat.
• Bila terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila anak tersebut masih menetek

Pengobatan antara lain :

• Mengatasi panas (demam) dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).
• Mengatasi batuk
Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis ½ sendok teh
dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh , diberikan tiga kali sehari.


DAFTAR PUSTAKA

• DepKes RI. Direktorat Jenderal PPM & PLP. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Jakarta. 1992.

• Lokakarya Dan Rakernas Pemberantasan Penyakit Infeksi saluran pernapasan akut. 1992

• Doenges, Marlyn E . Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien

• Alih bahasa I Made Kariasa. Ed 3. Jakarta: EGC.1999


PENGKAJIAN :

I. IDENTITAS PASIEN

Nama :
Umur :
Jenis kelamin :
Agama :
Suku :
Pekerjaan :
Status perkawinan :
Tanggal MRS :
Pengkajian :
Penanggung jawab :
Regester :
Diagnosa masuk :
Alamat :


II. RIWAYAT KESEHATAN

 Keluhan Utama
Klien mengeluh demam, batuk , pilek, sakit tenggorokan

 Riwayat penyakit sekarang
2 hari sebelumnya klien mengalami demam mendadak, sakit kepala, badan lemah, nyeri otot dan
Dan sendi, nafsu makan menurun, batuk,pilek dan sakit tenggorokan.

 Riwayat penyakit dahulu
Kilen sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit sekarang

 Riwayat penyakit keluarga
Menurut pengakuan klien,anggota keluarga ada juga yang pernah mengalami sakit seperti penyakit klien tersebut

 Riwayat sosial
Klien mengatakan bahwa klien tinggal di lingkungan yang berdebu dan padat penduduknya


III. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik di fokuskan pada pengkajian sistem pernapasan :

 Pengkajian tanda – tanda vital dan kesadaran klien
 Inspeksi :

• Membran mucosa hidung faring tampak kemerahan
• Tonsil tanpak kemerahan dan edema
• Tampak batuk tidak produktif
• Tidak ada jaringna parut pada leher
• Tidak tampak penggunaan otot- otot pernapasan tambahan,pernapasan cuping hidung, tachypnea, dan hiperventilasi


 Palpasi
• Adanya demam
• Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher / nyeri tekan pada nodus limfe servikalis
• Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid

 Perkusi
• Suara paru normal (resonance)

 Auskultasi
• Suara napas vesikuler / tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru


IV. PEMERIKSAASN PENUNJANG

• Tanggal :
• HB :
• LED :
• Hematokrit :
• Trombosit :
• MCV :
• MCH :
• MCHC :
• Diff Count :
• Urien PH :
• Ureum :
• Kreatinin :
• SGOT :
• SGPT :
• Na :
• Kalium :
• Cl :
• AGD :
• PCO2 :
• Radiologi :
• ECG :





DIAGNOSA KEPERAWATAN :

I. Peningkatan suhu tubuh bd proses inspeksi

Tujuan : Suhu tubuh normal berkisar antara 36 – 37, 5 ‘ C

INTERVENSI

1.Observasi tanda – tanda vital

2.Anjurkan pada klien/keluarga umtuk melakukan kompres dingin ( air biasa) pada kepala / axial.


3.Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan yang dapat menyerap keringat seperti terbuat dari katun.

4.Atur sirkulasi udara.

5.Anjurkan klien untuk minum banyak ± 2000 – 2500 ml/hr.

6.Anjurkan klien istirahat ditempat tidur selama fase febris penyakit.
7.Kolaborasi dengan dokter :
• Dalm pemberian therapy, obat antimicrobial
• antipiretika

RASIONALISASI

1.Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan perkembangan perawatan selanjutnya.

2.Degan menberikan kompres maka aakan terjadi proses konduksi / perpindahan panas dengan bahan perantara .

3.Proses hilangnya panas akan terhalangi untuk pakaian yang tebal dan tidak akan menyerap keringat.

4.Penyedian udara bersih.

5.Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh meningkat.

6.Tirah baring untuk mengurangi metabolism dan panas.


7.Untuk mengontrol infeksi pernapasan
Menurunkan panas


II. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b. d anoreksia

Tujuan : * klien dapat mencapai BB yang direncanakan mengarah kepada BB normal.
* klien dapat mentoleransi diet yang dianjurkan.
* Tidak menunujukan tanda malnutrisi.




INTERVENSI

1.Kaji kebiasaan diet, input-output dan timbang BB setiap hari

2.Berikan makan pporsi kecil tapi sering dan dalam keadaan hangat

3.Beriakan oral sering, buang secret berikan wadah husus untuk sekali pakai dan tisu dan ciptakan lingkungan beersih dan menyenamgkan.

4.Tingkatkan tirai baring.

5.Kolaborasi
• Konsul ahli gizi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan klien

RASIONALI

1.Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori menyusun tujuan berat badan, dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi.


2.Untuk menjamin nutrisi adekuat/ meningkatkan kalori total

3.Nafsu makan dapt dirangsang pada situasi rilek, bersih dan menyenangkan.

4.Untuk mengurangi kebutuhahan metabolic

5.Metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi atau kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal.


III. Nyeri akut b.d inflamasi pada membran mukosa faring dan tonsil.

Tujuan : Nyeri berkurang / terkontrol





INTERVENSI

1.Teliti keluhan nyeri ,catat intensitasnya (dengan skala 0 – 10), factor memperburuk atau meredakan lokasimya, lamanya, dan karakteristiknya.

2.Anjurkan klien untuk menghindari allergen / iritan terhadap debu, bahan kimia, asap,rokok. Dan mengistirahatkan/meminimalkan berbicara bila suara serak.

3.Anjurkan untuk melakukan kumur air garam hangat

4.Kolaborasi
Berikan obat sesuai indikasi
• Steroid oral, iv, & inhalasi


• analgesik

RASIONAL

1.Identifikasi karakteristik nyeri & factor yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi yang cocok & untuk mengevaluasi ke efektifan dari terapi yang diberikan.

2.Mengurangi bertambah beratnya penyakit.

3.Peningkatan sirkulasi pada daerah tenggorokan serta mengurangi nyeri tenggorokan.

4.Kortikosteroid digunakan untuk mencegah reaksi alergi / menghambat pengeluaran histamine dalam inflamadi pernapasan.

Analgesic untuk mengurangi rasa nyeri



IV. Resiko tinggi tinggi penularan infeksi b.d tudak kuatnya pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun)

Tujuan : * tidak terjadi penularan
* tidak terjadi komplikasi




INTERVENSI

1.Batasi pengunjung sesuai indikasi

2.Jaga keseimbangan antara istirahat dan aktifitas

3.Tutup mulut dan hidung jika hendak bersin, jika ditutup dengan tisu buang segera ketempat sampah

4.Tingkatkan daya tahan tubuh, terutama anak usia dibawah 2 tahun, lansia dan penderita penyakit kronis. Dan konsumsi vitamin C, A dan mineral seng atau anti oksidan jika kondisi tubuh menurun / asupan makanan berkurang

5.Kolaborasi
Pemberian obat sesuai hasil kultur

RASIONAL

1.Menurunkan potensial terpalan pada penyakit infeksius.

2.Menurunkan konsumsi /kebutuhan keseimbangan O2 dan memperbaiki pertahanan klien terhadap infeksi, meningkatkan penyembuhan.

3.Mencegah penyebaran pathogen melalui cairan

4.Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi

5.Dapat diberikan untuk organiasme khusus yang teridentifikasi dengan kultur dan sensitifitas / atau di berikan secara profilatik karena resiko tinggi

Kamis, 21 Agustus 2008

kEJANG DEMAM

KEJANG DEMAM

Definisi

Bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (rektal diatas 380 C) Merupakan kelainan neurologis yang sering dijumpai pada anak terutama pada golongan umur 6 bulan-4 tahun.

Patofisiologi

0C perubahan keseimbangan dari membran sel neuron difusi ion K+ dan ion Na+ melalui membran lepas muatan listrik keseluruh sel dan membran dengan bantuan neurotransmiter KEJANG.

KEJANG

Singkat lama

~tidak berbahaya dan <15 style=""> ~disertai apnea, O2 naik, . energi naik untuk kontraksi otot dan > 15 menit

~hipoksemia

~ hiperkapnia

~asidosislaktat

metabolisme otak terjadi kerusakan neuron otak kelainan anatomis diotak EPILEPSI

Manifestasi klinis

- 0C disebabkan infeksi diluar SSP, misalnya tonsilitis, otitis media akut, bronkitis, furunkulosis, dll.

- Serangan kejang terjadi dalam 24jam pertama sewaktu demam.

- Umumnya kejang berhenti sendiri.

- Setelah beberapa detik/menit anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa ada kelainan.

Diagnosa banding

Anak yang disertai kejang harus/perlu diwaspadai untuk menyingkirkan dahulu apakah ada kelaianan diotak, dan harus dipikirkan apa penyebab kejang itu dari dalam atau dari luarSSP. Kelaianan diotak biasanya karena infeksi, misalnya miningitis, ensefalitis,dll.

Prognosis

Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, prognosisnya baik dan tidak perlu menyebabkan kematian.

Resiko ang akan dihadapai oleh seorang anakn sesudah menderita kejang demam tergantung dari faktor:

  1. Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga.
  2. kelaianan dalam perkembangan atau kelaianan saraf sebelum anak menderita kejang demam.
  3. Kejang berlangsung lama.

Penanggulangan

  1. Membrantas kejang secepat mungkin.

Bila perlu datang dalam keadaan status konulsifus, obat pilihan utama adalah diazapam yang diberikan secara intravena, keampuan deazepam untuk menekan kejang adalah, sekitar 80%-90%. Pemberian diazepam pada anak secara intravena sangat menyulitkan, cara yang mudah, sederjhana dan efektif melalui reletum.

  1. Pengobatan penunjang

- Pakaian yang ketat dilonggarkan.

- Posisi kepala miring untuk mencegah aspirasi isi lambung.

- Mengusahakan jalan nafas ang besar.

- Pengisapan lendir secara teratur dan pengobatan ditambah dengan pemberian O2.

- Fungsi vital seperti kesadaran, suhu, TD, pernafasan dan fungsi jantung diawasi secara ketat.

- Untuk mencegah terjadinya edema otak, diberikan kortikosteroid, yaitu dengan dosis 20-30 mg/Kg BB/hari dibagi 0,5-1 ampul setiap 6jam sampai keadaan membaik.

3. Pengobatan rumat (lanjutan)

Daya kerja deazepam sangat singkat yaitu antara 45-60 menit, oleh sebab itu harus diberikan obat antiepileptik denagn kerja lama misalnya fenobrbital atau definilhidantion.

Lanjutan engobatan rumat ini tergantung dari pada keadaan penderita, dinagi atas 2 bagian yaitu:

  1. Porfilaksis intermiten

Digunakan untuk mencegah terjadinya kejang dikemudian hari. Penderita diberi obatcampuran antikonvulsan (dosis 4-5 mg/Kg bb/hari) dan antipiretika (dosis 60mg/tahun/kali).

Prolaksis intermiten diberikan pada anak menderita kejang demam sederana yang sangat kecil sampai sekitar mur 4tahun.

  1. Profilaksis jangka panjang

Digunakan untuk mencegah terjadinya kejang dikemudian hari, diberikan pada keadaan:

  1. Epilepsi yang diprovokasi oleh demam
  2. Keadaan kejang demam yang mempunyaiciri:
    1. Gangguan perkembangan saraf.
    2. Kejang lebih dari 15menit.
    3. Terdapat riwayat kejang tanpa demam
    4. Terjadi kejang berulang. pada bayi berumur dibawah 12 bulan.

Obat yang dipakai pada protikulasi jangka panjang ialah:

1. Fenobarital

Dosis 4-5 mg/kg bb/hari

Efek samping .hiperaktif dan perubahan sklus tidur (suka tidur)

2. Sodium valproat / asam valproat (epilin, depakene)

Dosis 20-30 mg/kg bb/hari dibagi dalam 3 dosis.

Efek samping , mual, kerusakan hepar dan pankreatitis.

3. Fenitoin (dilantin)

Diberikan sebagai pengganti fenobarbital.

4. Mencari dan mengobati penyebab

Penyebab kejang baik yang sederhana maupun ag epilepsi yang diprovokasi oleh demam biasanya infeksi traktus respiratorius bagian atas dqan otitis media akut.

- anak dengan kejang untuk pertama kali sebaiknya dikerjakan pemeriksaan lumbal.

- Anak dengan kejang lama pemeriksaan infeksi yaitu pemriksaan fungsi lumbal,darah lengkap misalnya : gula darah, kalium, magnesium, kalsium, natrium, nitrogen dan faal hati.

BAGAN MEMBRANTAS KEJANG

1. Segera diberikan diazeam intravena dosis rata-rata 0,3 mg/kg bb

atau

diazepam rektal dosis <10 kg : 5mg retikol

bila kejang tidak berhenti >10kg: 10 mg retikol

tunggu 15 menit

dapat diulang denagn dosis yang sama

kejang berhenti

berikan dosis awal fenobarbital

dosis: neonatus : 30 mg intramuskular

1 bulan-1tahun : 50 mg intramuskular

> 1 tahun : 70 mg intramuskular

pengobatan rumat

4 jam kemudian

dosis : hari I + II : Fenokarbital 8-10 mg/kg bb dibagi dalam 2 dosis.

Hasil berikutnya : Fenokarbital 4-5 mg/kg bb dibagi dalam 2 dosis.

2. Bila diazepam tidak tersedia :

Langsung memakai fenobarbital dengan dosis awal dan selanjutnya diteruskan dengan pengobatan rumah.